Selasa, 17 April 2012

Refleksi 2 tahun Hijrah

Berawal dari sebuah Nota Dinas yang diedarkan oleh Sekretaris Badan tempatku bekerja, pada Juli 2009, bahwa ada Lembaga pemerintahan baru yang mengumumkan rekrutmen untuk seleksi Pejabat Eselon di lembaga tersebut. Namun, ketentuan dalam Nota Dinas tersebut menyebutkan bahwa apabila ternyata lulus seleksi maka status kepegawaian akan segera dialihkan menjadi Pegawai Negeri Sipil di lembaga tersebut. Hatiku saat itu, entah mengapa, terpanggil. Maka kuberanikan diri untuk mendaftar disamping juga mendaftar secara on line ke Lembaga tersebut.

Setelah mengikuti tahapan seleksi yang sangat berat, aku pun dinyatakan lulus. Namun ternyata jalan untuk pindah terasa tidak mudah. Cibiran dan ejekan dari teman sejawat pun bermunculan. Mereka menyayangkan keputusanku untuk pindah. Mereka menertawaiku karena dengan keahlianku yang mumpuni di bidang Akuntansi dan Keuangan tentunya akan sangat berguna bagi tempatku bekerja ini. Apalagi, instansi tempatku bekerja akan ditingkatkan statusnya menjadi otoritas tertinggi yang akan mengawasi seluruh industri jasa keuangan di negeri ini melalui Undang Undang. Tentunya, akan ada remunerasi yang sangat tinggi apabila nantinya menjadi otoritas tertinggi tersebut. “Bisa berpuluh kali lipat dari sekarang”, demikian kata teman-teman sejawat. “Jangan sampai kamu menyesal kalau nanti gaji staf sepertimu bisa berlipat-lipat sementara penghasilanmu di lembaga sana malah sangat tidak memadai”, tambah mereka lagi.

Akupun mulai mencari tahu. Ternyata Gaji seorang pejabat eselon IV/a di lembaga pemerintah yang sedang melakukan rekrutmen tersebut ternyata lebih rendah dari gajiku sekarang. Ketika hal ini kuberitahu kepada wanita terkasihku dia cuma bisa menangis. Menangis membayangkan hidup yang pastinya akan semakin kekurangan. Betapa tidak! Dengan Gaji plus Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara yang besaran totalnya mencapai angka Rp 5,8 Juta kami sangat hidup dengan kondisi yang teramat pas-pasan. Apalagi kami harus menanggung cicilan hutang yang besarnya sekitar Rp 2,5 juta per bulan sehingga beban hidup kami semakin bertambah. Informasi yang ku dapat bahwa pejabat eselon IV/a di Lembaga pemerintah tersebut besaran Gaji plus Tunjangan Kerja Ganda hanyalah sebesar Rp 4,75 juta per bulan! Sehingga semakin terbayang, beban hidup yang semakin berat. Apatah lagi, wanitaku sudah tidak bekerja kantoran lagi lantaran terkena rasionalisasi!

Hatiku makin galau. Segalau tangisan kekasih hatiku yang semakin bersedih. Aku ingin membahagiakannya. Ingin melihatnya tersenyum dan tertawa. Andaikatapun dia menangis, aku ingin dia menangis bahagia. Aku terjebak di dua sisi. Satu sisi, inilah kesempatanku untuk meraih promosi dengan usaha tanganku sendiri. Bukan dengan cara menjilat, membungkuk-bungkuk, mencari beking atau dengan cara-cara pendekatan lainnya termasuk harus menjelek-jelekan rekan sejawat lainnya. Kali inilah aku mendapat kesempatan promosi bukan karena aku dekat dengan kekuasaan namun lebih karena prestasiku di tiap tahapan seleksi. Namun di sisi lain aku pun menyadari pula kalau ternyata tuntutan biaya hidup semakin menggunung. “Buat apa aku promosi kalau ternyata aku tidak mampu membiayai keluargaku”, pikirku dalam hati.

Ditengah kebimbangan, tanpa sengaja aku menyaksikan acara Mario Teguh Golden Ways. Dari acara itu aku pun mulai melihat dan menyimak apa yang disampaikan oleh motivator kondang tersebut. Tiba-tiba ada sebuah kalimat yang membuatku merenung. “Kenapa anda harus mempertahankan diri untuk berprestasi di tempat yang jelas-jelas tidak menghebatkan anda? Bukankah jauh lebih baik, anda menghebatkan diri di tempat yang seharusnya?”, demikian ucap sang motivator tersebut.

Kalimat itulah menjadikan ku termenung dan merenung. Sehabis shalat isya, kalimat itu masih terngiang-ngiang ditelinga. Aku merasakan bahwa tempatku bekerja memang tidak menghebatkanku. Padahal aku sudah pernah membuat manual pekerjaan yang bisa membantu teman-temanku untuk bekerja lebih baik. Bahkan aku dengan senang hati membagikan pengetahuan dan keterampilanku dengan yang lain. Aku pun juga berprestasi lantaran aku pernah membantu tim pemeriksa dalam mengungkapkan kasus-kasus besar. Namun kenyataannya aku tidak mendapatkan apa-apa!. Seorang pejabat eselon II ditempatku sering memberikan apresiasi yang tinggi atas hasil pekerjaanku, namun ternyata apresiasi itu hanya pemanis supaya aku terdiam! Kini, aku merasakan bahwa tempatku bekerja sama sekali tidak menghebatkanku.

Hari-hari berikutnya, aku masih bekerja ditengah kegalauan hati yang masih setia bersarang. Aku pun mulai berdoa supaya diberikan jalan keluar. Disebuah kajian siang di masjid Al-Amanah yang dibawakan KH A. Samiun Jazuli, tentang hijrah, membuka mata batin dan pikiranku. Berkaca kepada kehidupan Rasulullah SAW ketika berhijrah, justru beliau menemui kesulitan demi kesulitan bahkan ujian demi ujian. Namun ternyata, Allah memberikan balasan yang sangat manis! Tidak sampai sepuluh tahun kemudian, seluruh jazirah Arab telah masuk ke dalam Cahaya Islam. Bahkan beliau kembali ke Mekah sebagai pemenang!

Disitulah kegalauanku hilang. Seluruh kekhawatiranku karena tidak dapat membahagiakan keluarga hilang dan kebimbangan akan beban biaya hidup yang tinggi pun musnah! Dengan kemantapan hati, aku pun menghubungi para atasanku. Aku nyatakan bahwa aku akan pindah ke lembaga pemerintah tersebut sekarang! Dan aku pula yang mengurus berkas-berkas kepindahanku sendiri. Dengan bismillah aku mulai melangkah. “Ya Allah, kuniatkan kepindahanku ke instansi yang baru ini sebagai hijrah dijalan-Mu”, demikian kataku dalam hati.

Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari satu bulan, tepatnya 1 April 2010, akhirnya aku pun pindah. Ku melihat ekspresi dari para atasanku yang terkesan datar. Namun ku melihat kesedihan diantara teman-teman sejawatku. Mereka menyalami bahkan mencium tanganku berharap dapat bertemu kembali dilain waktu. Tapi langkahku sudah bulat! Aku pun mulai mengemasi seluruh barang dan pergi meninggalkan kantorku dengan langkah pasti di sore itu!.

Namun ujian belum berakhir. Sebulan sejak aku bergabung dengan lembaga baru ternyata aku harus mengembalikan Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara bulan kemarin karena kepindahanku tersebut tidak dikomunikasikan dengan Bagian Keuangan. Ketika kondisi ini kuceritakan kepada wanitaku dia makin bersedih! Karena aku belum mengembalikan tunjangan tersebut, maka transfer gajiku dihentikan karena aku dianggap berhutang kepada negara. Terpaksa aku pun mengutang lewat fasilitas kartu kredit terakhir dan membayar seluruh tagihan tunjangan tersebut. Kini beban hutangku makin menggunung karena tagihan kartu kreditku makin membengkak!

Aku bersedih. Ditengah kesedihan yang teramat sangat, aku menangis di dalam masjid. Memohon kepada Allah agar diberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan. Aku tidak tahu harus berbuat apa karena tidak tahu harus bagaimana. Entah mengapa selepas dari masjid pikiran dan hatiku terasa plong. Aku bertekad untuk menyelesaikan persoalanku dengan caraku sendiri.

Dengan terpaksa, aku menjual rumahku dengan harga murah! Rumah yang kubeli empat setengah tahun yang lalu kujual dengan harga yang sama ketika kubeli. Dari hasil penjualan rumah, aku pun memutuskan untuk mengontrak di sebuah rumah yang cukup baik di perumahan yang lebih dekat dengan stasiun kereta. Sebagian kupakai untuk melunasi seluruh tagihan kartu kredit sisanya ku tabung untuk modal usaha. Belakangan, tabunganku pun ludes lantaran tanpa ada sebab apa-apa Bapak Mertuaku harus masuk rumah sakit saat tiba di rumah kontrakanku saat mengunjungi aku dan keluarga. Namun demikian, sedikit demi sedikit aku sudah bisa mengurangi beban hutangku.

Satu setengah bulan sudah aku bergabung di lembaga pemerintah ini, maka aku mendapatkan penugasan ke Ujung Paling Barat Indonesia yakni Pulau Sabang. Dari sana, aku bisa pulang membawa pulang uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Berturut-turut aku mendapatkan penugasan ke tempat-tempat lain baik disebelah Barat, Tengah maupun Timur Indonesia. Hasil dari penugasan tersebut sebagian digunakan wanitaku untuk biaya hidup kami sekeluarga sisanya ditabung. Aku pun makin larut dalam penugasan-penugasan yang bagiku semakin menyenangkan. Dimana aku bisa berkunjung ke tempat-tempat eksotis di seluruh Nusantara ini tanpa harus mengeluarkan biaya sedikit pun!.

Akhir tahun 2010, seorang teman sedang mengerjakan kawasan perumahan di wilayah perbatasan antara Kota Depok dengan Jakarta. Tanpa disangka-sangka teman tadi menawarkan rumah di kawasan perumahan tersebut dengan harga hanya Rp 174 juta saja! Harga yang sangat murah untuk rumah yang hampir menempel dengan Jakarta. Karena wanita terkasihku sering menabung dengan tidak mengecek saldo tabungannya, maka kami terkejut! Hasil tabungan kami lebih dari cukup untuk membayar DP berikut biaya KPRnya!. Dengan segera, kami pun berhasil membeli rumah melalui KPR BRI Syariah dan seminggu setelah Tahun Baru 2011 kami pun menempati rumah baru kami bersamaan dengan berakhirnya masa kontrak di rumah kontrakan tersebut.

Selama tahun 2011, penugasan demi penugasan aku dapatkan. Koleksi perjalananku makin lengkap lantaran aku sering menempuh perjalanan darat, laut dan udara. Aku makin sering mengunjungi bandara yang tersebar di seluruh nusantara. Di akhir 2011, aku pun mendapatkan kado istimewa dari perusahaan penerbangan plat merah nomor satu di negeri ini. Menjadi Gold Member!. Dimana aku mendapatkan keistimewaan untuk menikmati makan, minum, sambil internetan di lounge mereka di seluruh bandara yang ada di nusantara ini secara cuma-cuma alias gratis!.

Mengawali tahun 2012, kini namaku sudah mulai terkenal. Kemana-mana aku dihargai oleh semua orang. Mulai dari Kepala Daerah, Sekretaris Daerah, Pejabat Eselon II, III, IV dan staf juga pejabat eselon lain di Kementerian lain bahkan tidak terkecuali Kementerian Keuangan!. Bahkan aku banyak berkenalan dengan para Perwira Menengah yang ada di Kepolisian. Aku pun berbangga hati, bisa mengajari tim dari Kejaksaan bagaimana membongkar kasus korupsi di bidang pengadaan dimana bayaran selama sehari setara dengan Gaji plus Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara, selama aku menjadi staf dulu di Badan, selama sebulan! Bahkan, rejeki dari Allah mengalir bagaikan air yang deras waktu aku bertugas di Kementerian Agama dan di sebuah kabupaten di Provinsi Bengkulu! Terasa benar nikmat Allah semakin terasa dalam hidupku.

Kini, tak terasa sudah 2 tahun aku berhijrah. Ketika melihat rumahku yang semakin bersinar, lengkap dengan peralatan rumah tangga yang memadai, halaman luas, tanaman yang sudah berbuah, terparkir kendaraan roda empat plus roda dua, serta ditambah kamar-kamar yang berpendingin udara, membuatku semakin bangga pada diri sendiri. Kemana-mana kini aku bekerja dengan menggunakan iPad dan Laptop terbaru, semakin mempermudah hidupku. Ketika melihat saldo rekeningku dan wanita kekasih hatiku yang angkanya setiap minggu selalu bertambah meskipun baru dalam kisaran jutaan rupiah dari bisnis perdagangan pakaian jadi yang dijalani oleh wanita terkasihku yang semakin lama semakin bertambah omsetnya, membuat kami sekeluarga makin bahagia. Apatah lagi, laporan dari Mandiri Sekuritas, setiap minggunya, yang selalu melaporkan kenaikan investasiku membuat kebahagiaan hidupku semakin bertambah.

Karenanya, aku berusaha untuk selalu memperpanjang sujudku kepada-Nya.
Hasil itu berbuah manis! Ternyata, Allah sama sekali tidak menyia-nyiakan hamba-Nya selama hamba-Nya itu senantiasa berusaha dan berdoa. Kini perlahan namun pasti, aku sudah membuktikan janji-Nya. Apabila kalian ingin merasakan hal yang sama, jadikanlah kisah yang kutulis ini sebagai pelajaran berharga.



Denpasar, 16 Maret 2012 menjelang tengah malam, disempurnakan di Bogor, 17 April 2012.

Samudra Gunadharma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar