Senin, 24 Juni 2013

Cerita Fiksi



Pengantar :
Saya mencoba menulis Fiksi pada Blog ini. Mudah-mudahan bisa dinikmati. Jika ada kekurangan silahkan menyampaikan kritik dan saran ke samudra.gunadharma@gmail.com . Selamat membaca!


Lelaki Misterius nan Menawan

Sore itu, seperti biasa, aku duduk-duduk di warung rokok yang terletak diujung jalan. Sambil mengawasi gerobak gorenganku aku berbincang-bincang dengan Mpok Danu, si pemilik warung rokok. Pembicaraan kami pun hampir sama dengan hari-hari yang lalu. Mulai dari gosip artis, permasalahan kehidupan, sampai terkadang hanya sekedar canda ria.
Ketika sedang asyik bercengkerama, tiba-tiba Mas Tarsidi si tukang parkir berteriak, “Wooii Teh Risma, tuh ada yang mau beli gorengan!”.
Aku pun bergegas menuju ke gerobak gorenganku. Terlihat seorang lelaki memakai jaket kulit hitam tengah berdiri dekat gerobakku. Dia mengamati tumpukan gorengan yang sangat banyak yang ada di etalase kaca gerobakku. Maklum saja, dari tadi siang belum ada seorang pun yang membeli gorenganku.
Aku menemuinya. Dia melemparkan senyum sambil berkata, “Beli gorengannya mbak. Sepuluh Ribu Rupiah saja!”.
“Dicampur Pak?”, tanyaku kemudian. “Tempe, Tahu dan Bakwan saja. Perbanyak tahunya ya!”, katanya sambil menyerahkan selembar uang sepuluh ribu.
Aku langsung membungkus pesanannya. Sambil memilih gorengan dia berkata, “Wah, cepat juga layanannnya. Suasana sore begini memang enak makan gorengan!”, sambil mengambil bungkusan gorengan dari tanganku dengan tetap tersenyum. Setelah itu dia pun pergi.


Beberapa hari kemudian…..
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Panas badan anakku, Dinda, semakin meninggi. Aku bingung karena aku sama sekali tidak punya uang untuk membawanya ke dokter. Kegagalan pernikahan sampai dua kali yang kualami membuatku harus berjuang sendirian menghidupi Dinda dan aku di pinggiran Ibu Kota yang kejam ini. Namun hari itu aku terpaksa harus berjualan, karena ketika kucoba meminta bantuan utang ke tetangga sekitarku mereka pun dalam kondisi yang tidak memiliki banyak uang.
Sore menjelang Maghrib, cuaca sangat tidak bersahabat. Hujan turun dengan cukup deras. Aku tidak duduk di Warung Mpok Danu karena kebetulan sedang tutup lantaran dia sedang menghadiri pesta pernikahan sepupunya di Bogor. Aku terpaksa memasang tenda sederhana di gerobakku. Aku duduk termangu. Memikirkan Dinda yang sedang sakit dan terpaksa kutitipkan ke Mak Encum, nenek tetanggaku yang baik hati. Aku tidak bisa berbuat banyak lantaran gorenganku masih tersisa banyak. Aku membutuhkan banyak uang untuk sekedar menyambung hidup dan membawa Dinda ke Dokter. Tanpa terasa, air mataku meleleh di pipi.
“Kok bengong sih Mbak ?”, kata seorang lelaki yang berdiri dibelakangku. “Dari tadi saya bilang mau beli gorengan mbak diam saja”.
Aku pun tersadar. Mulai mengusap air mataku. Ketika ku balikan badan betapa terkejutnya aku. Ternyata dia adalah lelaki yang sama ketika membeli gorengan beberapa hari lalu ! Mengenakan jaket kulit hitam dan bercelana jeans serta bersepatu kets warna putih. Aku segera merapikan penampilanku. Ku akui aku belum sempat berganti pakaian. Sore itu aku hanya mengenakan kaos berkerah dengan celana jeans tiga perempat.
“Saya lagi ada acara pertemuan dengan teman-teman kantor. Jadi saya beli semua gorengannya !”, katanya kepadaku.
Betapa terkejutnya aku! Disaat aku sedang kesulitan keuangan, ternyata ada orang yang datang menolongku. Dengan sigap aku segera membungkuskan semua gorengan yang ada dan menyerahkannya ke tangannya. “Semuanya jadi empat puluh ribu Pak!”, kataku.
Sambil tertawa kecil, dia menyerahkan selembar uang seratus ribu. “Ambil saja kembaliannya mbak! Kebetulan, saya baru dapat proyek di luar daerah. Hitung-hitung bagi rejeki!”, katanya sambil tersenyum dan berlalu.
Aku pun terbengong-bengong dengan ulahnya. Belum sempat kuucapkan terima kasih dia sudah menghilang di ujung jalan. Dengan segera, aku menutup gerobakku dan membawanya ke tempat penitipan dan aku langsung pulang ke rumah kontrakanku. Untuk kemudian membawa Dinda ke dokter.

Syukurlah ternyata Dinda hanya demam biasa. Ternyata biaya pengobatannya hanya menghabiskan uang Tiga Puluh Ribu Rupiah saja. Sehingga aku ada sisa uang Tujuh Puluh Ribu Rupiah. Sisa itulah aku belikan Dinda makanan di restoran McDonald tak jauh dari gang dekat rumah. Maklum, Dinda sangat menginginkan sekali bisa makan di McDonald dari dulu. Ketika melihat Dinda makan dengan lahap aku menangis haru! Haru, karena baru kali ini aku bisa memenuhi keinginan Dinda dari dulu!
“Kok mama nangis sih ?”, kata Dinda. “Khan, Dinda sudah sembuh. Eh iya, makasih ya mah! Mamah bisa membawa Dinda kesini. Nanti Dinda rajin-rajin berdoa, semoga Mamah bisa sering bawa Dinda kesini”, katanya dalam ekspresi yang polos.

Aku memeluk anakku satu-satunya itu sambil menahan tangisku. Aku berkata, “Iya, Mamah percaya Dinda pasti baik sama Mamah. Doain Mamah ya sayang!”.
Boleh dikatakan, Dinda adalah satu-satunya harapanku untuk menjalankan kehidupan yang sangat keras ini. Dia adalah buah cintaku dari suami keduaku, yang entah kenapa pergi memilih wanita lain yang lebih menjanjikan padahal banyak orang yang bilang aku lebih cantik ketimbang kekasihnya. Sebelum menikah dengannya aku sudah pernah menikah dengan seorang duda yang bertetangga dengan kampung orang tuaku. Aku menyetujuinya lantaran orang tuanya sudah lama berteman dengan orang tuaku. Namun aku hanya bertahan dua tahun dengannya, karena setiap hari dia selalu rajin menyakiti badanku. Entah sudah berapa banyak tendangan, tamparan dan pukulan yang kuterima. Untunglah orang tuaku mengerti sehingga perceraianku dengan sang duda tersebut berlangsung dengan cepat dan mulus.

Enam bulan kemudian, bertepatan dengan ulang tahunku yang ke dua puluh tahun aku bertemu dengan teman sepermainanku waktu kecil yang bekerja di Ibu Kota. Tanpa banyak berpikir, aku menerima lamarannya dan kedua orang tuaku setuju untuk menikahkanku. Tak lama kemudian, aku dibawa ke pinggiran Ibu Kota. Awalnya, aku cuma menjadi ibu rumah tangga biasa. Kehadiran Dinda dalam kehidupan kami berdua memberikan arti yang sangat penting bagi sebuah keluarga. Namun ternyata, kebahagiaan itu tidak lama, tepatnya hanya bertahan empat tahun saja. Suamiku terkena Pemutusan Hubungan Kerja di pabriknya dan menjadi penganggur. Aku pun berinisiatif membantu ekonomi keluarga dengan menjadi penjual gorengan. Aku pun mengambil fungsi sebagai pencari nafkah di dalam keluarga.

Agaknya dari situlah awal keretakan hubungan keluarga kami. Setiap hari suamiku pergi dari rumah pagi-pagi dan baru pulang malam. Itu pun sama sekali tidak membawa uang. Ketika aku tanya dia hanya marah-marah. Puncaknya, aku mengetahui bahwa dia sedang menjalin cinta dengan putri seorang penjaga sekolah yang masih duduk di bangku SMU. Hubungan cinta mereka ternyata terlanjur jauh sehingga kekasihnya kini tengah mengandung buah cinta mereka.

Hatiku hancur. Yang lebih menyakitkan, dia sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Bahkan dia makin mantap untuk menceraikanku dan akan menikahinya. Ketika kabar itu sampai ketelinga orang tuaku Bapakku dikampung langsung jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Tak tahan ditinggal Bapak, Ibu ku pun akhirnya juga menyusul Bapak beberapa bulan kemudian. Praktis, kini aku benar-benar sebatang kara. Kini, hanya Dinda-lah satu-satunya alasan mengapa aku harus terus bertahan. Dimana hal tersebut sudah berlangsung selama dua tahun belakangan.

Malam itu Dinda tertidur dengan nyenyak. Aku bisa melihat senyum ditidurnya. Ya, dia tampak bahagia karena keinginan terbesarnya sudah terkabul. Aku memandangnya dengan terus menahan tangis haruku. Setelah kuselimuti Dinda, aku terduduk di kasur. Aku merenungi kejadian yang kualami. Akhirnya aku berpikir, justru disaat yang genting lelaki misterius itu menjadi penyelamatku!

Keesokan harinya, di waktu Sore, aku kembali berjualan gorengan seperti biasa. Hari itu, aku sangat lelah karena entah mengapa banyak yang datang ke gerobakku membeli gorengan. Dalam waktu tiga jam sejak kubuka maka gorenganku ludes. Ketika aku akan menutup gerobakku, ternyata lelaki yang sama datang lagi.
“Mbak, beli gorengannya”, katanya. “Wah habis, Pak!,” kataku.
Dia pun terlihat kecewa, namun ketika akan pergi, aku teringat kalau aku masih menyimpan tiga potong tahu isi ukuran besar yang belum sempat aku goreng di dalam gerobak. Aku pun langsung memanggil lelaki tersebut.
“Pak, tunggu!”, kataku mendekat. “Kalau Bapak mau menunggu, saya akan gorengkan tahu isi buat Bapak. Ukurannya besar Pak, tapi Cuma tinggal tiga potong. Bagaimana Pak?”.
“Yaa, boleh lah. Daripada tidak dapat apa-apa”, katanya. Dia pun duduk dekat gerobakku.
Aku pun mulai menggoreng ketiga tahu isi ukuran besar tersebut. Kucoba berbincang dengannya, sambil berterimakasih kepadanya atas uang seratus ribu rupiah yang diberikannya kemarin. Ternyata dia menjawab dengan ramah! Dia juga bercerita, kalau dia lebih sering menggunakan angkutan umum untuk pergi ketempat kerjanya karena lebih irit.
“Ini Pak, gorengannya”, kataku sambil menyerahkan bungkusan tahu isi tersebut. Dia pun menyerahkan selembar uang dua puluh ribu rupiah sambil berkata, “ambil saja kembaliannya mbak”. Sambil tersenyum dia pun menambahkan, “sayang sekali, penjualnya kurang berdandan. Untung dagangannya hari ini laku keras!”, candanya sambil berlalu dihadapanku.

Aku hanya memperhatikan langkahnya yang semakin lama semakin menjauh kemudian menghilang di ujung jalan. Entah mengapa, kata-katanya terngiang di telingaku. Aku mulai menyadari kalau selama ini, aku kurang memperhatikan penampilanku. Ya, karena penjual gorengan identik dengan orang yang kurang rapi, harus selalu kumal dan tidak perlu merias diri. Kata-katanya membekas dan menghujam ke dalam hatiku.
Keesokan paginya aku mulai merias diriku. Pagi itu, aku berdandan. Memilih pakaian terbaiku sebelum berangkat berjualan. Dinda yang melihatku berdandan memuji penampilanku. “Mamah cantik”, katanya. Aku tersenyum dan mencium pipinya. Kemudian aku menitipkan Dinda ke tetangga untuk kemudian berangkat ke tempat penitipan gerobak untuk berjualan.
Aku sibuk melayani pembeli yang datang membeli gorengan. Meskipun banyak yang datang tapi masih ada sedikit tersisa gorengan yang kugoreng tadi pagi. Tiba-tiba saja, menjelang sore, hujan turun dengan deras. Aku segera memasang tendaku dan berdiam diri. Kupandangi sisa gorengan yang ada sambil duduk berteduh dari hujan yang deras. Entah mengapa, aku rindu pada sosok lelaki misterius yang sering membeli gorenganku. Ya, aku rindu didatangi olehnya. Rindu, supaya ia datang kepadaku.
Aku melihat seorang lelaki berkemeja biru berlari kearahku. Ternyata, dia datang! Tidak mengenakan jaket kulit seperti kebiasaannya. Dia langsung masuk ke tendaku sambil mengusap kepalanya yang basah terkena hujan.
“Aha! Ternyata masih ada. Saya beli gorengannya ya mbak!”, katanya sambil mengusap sisa-sisa air di kemejanya.
“Kehujanan Pak?”, kataku. “Eh, ini tinggal sedikit. Apa semua saja ya Pak?”, tanyaku kemudian.
“Eh, iya. Tadi baru turun dari angkot. Tiba-tiba hujan deras”, katanya lagi.

Aku pun membungkuskan semua gorengan yang tersisa dan menyerahkannya. Dia pun memberikanku selembar uang lima puluh ribuan. “Ambil saja semuanya”, katanya. Sepertinya dia akan pergi karena kulihat dia mengeluarkan selembar koran dari tasnya yang akan digunakan sebagai payung.
“Pak, kenapa gak berteduh saja disini. Hujannya deras, Pak. Nanti Bapak malah sakit”, kataku yang entah kenapa ingin dia tidak langsung pergi dari tempatku.
“Ya, baiklah. Tunggu reda dulu”, katanya. Dia pun duduk ditempat duduk dekat gerobak. Aku pun duduk disampingnya.
“Boleh tahu nama Bapak?”, kataku.
“Ya, saya Rifan. Mbak namanya siapa?”, tanyanya lagi.
“Risma, Pak”, kataku.
“Jangan panggil Pak dong. Saya kan belum tua banget,” katanya.
“Iya deh, saya panggil om saja”, kataku.
“Lho, emangnya saya om-om yang suka godain ABG?”, katanya.
Aku pun tertawa mendengar omongannya. “Terserah Risma, mau mas, abang atau akang. Risma orang sunda khan ?”, katanya lagi.
“Kok mas bisa tahu?”, kataku agak heran.
“Dari logatnya”, katanya, “Sunda pisan. Tapi saya gak bisa ngomong sunda lho”, sambil tersenyum.
Aku tersenyum kepadanya. Baru kali ini di dalam hatiku ada getaran lain. Ya, aku merasakan kehangatan yang tidak biasanya dari diri Mas Rifan. Dia begitu berwibawa. Dari pakaian yang dikenakan aku mengira dia bukan orang sembarangan. Dari caranya berbicara, dia sosok yang cerdas. Getaran hati ini makin terasa karena dia ternyata pandai bercanda. Belum pernah, aku tertawa selepas ini bersama dengan lelaki yang asing.

Tiba-tiba saja petir bergemuruh dengan kencang. Angin pun bertiup dengan kerasnya. Menerbangkan sampah yang bertebaran di jalan. Dengan refleks, aku melompat dari kursiku dan memeluk tubuh Mas Rifan. Mas Rifan kaget. Namun, aku sempat memeluk tubuh kekarnya. Tangannya memegang tanganku.
“Gak apa-apa Risma. Cuma angin dan petir kok. Jangan takut.”, katanya.
Aku tidak menjawab, tapi kuakui dalam diri ini ada perasaan lain waktu aku memeluknya. Tubuhnya yang kekar dan wangi semerbak membuatku nyaman. Ada perasaan hangat menyelimuti sekujur tubuhku. Kurang lebih sekitar tiga menit aku memeluknya. Dia pun mulai melepas pelukanku dengan lembut dan perlahan. Memegang tanganku dan kembali mengajakku duduk.
“Maafkan Risma, mas. Yang tadi itu refleks”, kataku.
Dia tersenyum. “Tidak apa-apa. Yang penting Risma tidak takut lagi”, katanya sambil memegangi jari tanganku.
“Nah gitu dong! Kalau berdagang harus berdandan. Masak berjualan dengan pakaian yang kumal. Khan lebih cantik kalau begini”, katanya seolah ingin menggodaku.

Aku pun tersenyum. Hatiku terasa berbunga-bunga. Ketika tangannya ingin melepas jariku aku menahannya. Hujan turun dengan derasnya. Aku pun merapat kedekatnya.
Mas Rifan merangkul tubuhku. Tangan kirinya memegangi jari-jemariku sementara tangan kanannya membelai rambutku. Aku terlena. Ku dekatkan kepalaku ke dadanya yang bidang. Dia memberanikan diri untuk mengecup dahiku. Terasa ada perasaan hangat di dalam tubuhku. Tanpa di kuduga, dia menarik leherku dan mencium bibirku! Mulanya aku sangat kaget, tapi entah mengapa kubiarkan dia mencium bibirku. Sejujurnya, timbul desir-desir di dalam hatiku saat Mas Rifan mencium bibirku. Aku pun memejamkan mata. Membuka mulutku agar lidahnya bisa masuk. Lidah kami saling membelit dan bertukar ludah. Cukup lama juga kami berciuman. Kira-kira dua menit kemudian, Mas Rifan menyudahi ciumannya. Dia membelai rambutku dan mengecup keningku.


“Maaf Risma, aku sudah keterlaluan”, katanya seperti penuh sesal. “Aku harus pergi. Tampaknya hujannya sudah mau reda”, katanya sambil bangkit dari tempat duduk plastik. Membentangkan koran dan tampak tergesa-gesa ingin pergi.
“Mas Rifan ! Ini gorengannya”, kataku sambil menyerahkan bungkusan gorengan tersebut.
Mas Rifan tersenyum. Dia mengambil gorengannya kemudian berlari ditengah hujan yang mulai mereda sambil membentangkan koran menutupi kepalanya. Aku masih memandanginya sampai dia menghilang diujung jalan. Aku mulai merapikan gerobakku untuk kembali ke pangkalan dan pulang kerumah. Hari itu, aku berhasil mengumpulkan uang hampir dua ratus lima puluh ribu rupiah. Cukup untuk membeli makanan untuk aku dan Dinda.


Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku masih terbayang perlakuan ketika Mas Rifan mencium bibirku dimana aku begitu menikmatinya!. Ya, pikiranku tertuju kepada Mas Rifan seorang. Akankah aku bertemu dengannya besok? Padahal belum sehari aku berpisah dengannya, namun kerinduan ini semakin menajam.
Dua kali sudah aku mengalami kegagalan dalam pernikahan. Membuatku memutuskan untuk menutup pintu hatiku untuk makhluk yang bernama laki-laki. Tapi entah mengapa, sejak kehadiran Mas Rifan hatiku makin berbunga dan mekar! Aku lebih optimis dalam memandang kehidupan. Karenanya, Dinda cukup heran melihat aku yang lebih ceria. Biasanya, dia selalu memandangku dalam keadaan sedih dan jarang bergembira.
“Mamah sepertinya senang banget. Ada apa sih Mah?”, tanyanya polos.
“Ah, enggak. Hari ini dagangan mamah laku semuanya!”, kataku mencoba berbohong.
“Tapi kemarin dagangan mamah banyak yang laku. Mamah gak sebahagia ini”, katanya lagi.
Aku memeluknya dan mengatakan kepadanya, “Sayang, kelak ketika kamu besar nanti. Kamu pasti akan merasakan apa itu jatuh cinta”.
Dia melepas pelukanku dan berkata, “Jadi mamah jatuh cinta? Sama siapa mah”, tanyanya dengan penuh keheranan.
Aku mencubit hidungnya, “Kamu mau tahu aja!”. Kami pun saling tertawa.


Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Setelah mandi, aku memilih pakaian terbaiku dan berdandan secantik-cantiknya. Banyak orang keheranan akan penampilanku, tapi semuanya memuji kecantikanku. Aku menuju tempat penitipan gerobak dan mulai mendorong gerobakku ke tempat biasa aku berjualan dengan wajah ceria.
Kulayani setiap pembeli yang datang dengan wajah gembira. Aku merasa bahagia dan senang. Namun demikian, sesekali aku selalu memandang ujung jalan. Berharap Mas Rifan datang untuk membeli gorengan atau hanya sekedar mampir. Aku pun tak keberatan jika seandainya Mas Rifan membawaku pergi kesuatu tempat untuk mengulangi kembali apa yang sudah pernah dia lakukan terhadapku. Bahkan lebih jauh dari itu pun aku rela!
Sampai sore menjelang maghrib, aku terus menatap ujung jalan. Namun ternyata Mas Rifan tidak datang. “Mungkin dia akan datang besok”, kataku dalam hati. Hari itu penjualan gorenganku kembali lancar. Selepas ashar tadi, gorenganku sudah terjual habis. Kembali kututup gerobakku dan melangkahkan kaki pulang ke rumah.


Demikianlah aku menjalani hari demi hari. Memang benar, sejak aku merubah penampilanku daganganku menjadi laris. Perlahan tapi pasti tabunganku semakin banyak. Sebulan kemudian, aku memutuskan untuk pindah ke sebuah kontrakan yang lebih baik. Aku mengontrak di sebuah rumah yang cukup besar. Dari hasil penjualan gorengan, aku bisa menyekolahkan Dinda ke TK terdekat. Semakin lama, omset gorenganku semakin banyak. Kini aku punya tiga buah gerobak gorengan dimana kedua gerobakku yang lain dijalankan oleh orang-orang kepercayaanku.

Tak terasa, sudah enam bulan berlalu. Aku masih setia memandang ujung jalan tempat aku berjualan. Berharap, Mas Rifan kembali datang menemuiku. Aku mengakui, bahwa kini aku semakin mencintainya. Aku memiliki angan-angan dan harapan. Harapan supaya kelak dia mau menjadi suamiku. Menyayangi aku dan Dinda sepenuh hati. Namun entah mengapa, dia kini bak ditelan bumi. Aku masih setia menunggunya dan tak pernah putus berharap. Tidak tahu sampai kapan, harapan untuk bertemu dengannya masih ada dalam hatiku. Dia memang misterius, semisterius kehadirannya dalam kehidupanku. Tapi dia berhasil menjeratku dalam panah cintanya. Membuat seumur hidupku terperangkap dalam cinta dan rindu yang amat sangat senantiasa membakar hatiku.


Inspired by real short-story, I read twenty years ago

Jakarta, 20 Juni 2013