Jumat, 14 November 2014

History Re-Enactment (Bagian Pertama)



Pengantar:
Dalam blog ini, saya mencoba menulis reka ulang sejarah atas beberapa fakta sejarah yang muncul. Tentunya, di dalam penulisan ini saya mencoba memasukan sedikit unsur fiksi yang berasal dari imajinasi saya sendiri. Namun demikian, hal tersebut tidak mengurangi unsur sejarah yag terkandung di dalamnya.
Selamat membaca!

Roma, Tahun 631 Masehi
Deru kaki kuda itu pun mulai terdengar semakin kencang. Kuda yang ditunggangi oleh pria yang berbaju rapi dan berwajah tampan itu mulai memasuki pelataran istana sang Kaisar Romawi. Kemudian berhenti tepat di depan para penjaga. Sang pria itu pun turun dan menerangkan maksud kedatangannya. Mulanya para penjaga tidak akan memberikan izin untuk masuk. Namun melihat dari si pria tersebut membawa surat diplomatik penting, maka mereka mengizinkannya untuk memasuki istana. Tanpa banyak basa-basi segera saja si penunggang kuda tersebut memasuki istana sang kaisar.
Tibalah dia di hadapan Kaisar Romawi yang bernama Heraklius. Setelah memberikan hormat, pria tadi mengeluarkan selembar surat penting. Lengkap dengan cap diplomatik. Surat tersebut disampaikan kepada Kaisar Heraklius.
“Tolong terjemahkan isi surat itu kepadaku, lalu bacakan”, kata sang kaisar. “Aku tidak mengerti Bahasa Arab”, katanya lagi.
Maka dibacakan terjemahan isi surat tersebut,

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Dari hamba Allah dan Rasul-Nya, Muhammad bin Abdullah
Kepada Heraklius, Kaisar Romawi
Saya menawarkan Islam kepada anda. Karenanya, mari anda bergabung untuk masuk ke dalam Islam. JIka anda tidak menerima Islam, sungguh anda akan menanggung dosa Arius berikut pengikutnya.
Katakanlah, Hai Ahli Kitab, marilah berpegang teguh kepada satu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak ada kita sembah selain Allah dan tidak ada persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun dan tidak pula sebagian dari kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikan bahwa kami adalah muslim”.

Tertanda,

Muhammad bin Abdullah.

Tersentak Heraklius mendengar isi surat yang dibacakan oleh pria tadi, dimana surat itu menyebut nama Arius!  Yang dia ketahui, nama itu sudah terkubur selama tiga ratus tahun. Tidak ada yang tahu tentang Arius, kecuali para kaisar dan keturunannya. Darimana dia, orang yang bernama Muhammad bin Abdullah dan berasal dari padang pasir yang tandus bisa tahu?

Ingatan Heraklius tertuju ke kejadian tiga ratus tahun yang lalu. Menindaklanjuti Konsili Nisczhea pada tahun 325 Masehi, maka seluruh Romawi sepakat untuk menerima Agama Nasrani yang sudah dimodifikasi sesuai dengan keinginan penguasa Romawi saat itu. Dimana doktrin Agama Nasrani menetapkan bahwa ada Trinitas yang merupakan satu kesatuan. Yakni Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Tuhan Bapak adalah Allah, Tuhan Anak adalah Yesus. sedangkan Roh Kudus adalah Tuhan Pembawa Wahyu. Hasil konsili menetapkan bahwa doktrin tersebut merupakan dogma yang tidak boleh dibantah apalagi dipertanyakan. Barang siapa yang menentang dogma tersebut maka akan disebut sesat dan di cap sebagai pemberontak negara yang sangat berbahaya.

Seluruh rakyat menerima dogma tersebut dan ramai-ramai memeluk agama baru yang sudah di modifikasi tersebut. Semua menerima, kecuali seorang pendeta bernama Arius. Arius menentang dogma tersebut. Arius berkeyakinan bahwa Tuhan adalah Satu. Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Sedangkan Yesus. adalah utusan-Nya kepada umat manusia. Tidak mungkin, utusan Tuhan menjadi Tuhan. Bahkan, Yesus sendiri menegaskan dalam Kitab Injil, bahwa beliau hanya Nabi dan Rasul-Nya.

Mulanya dakwah Arius dianggap sebagai angin lalu oleh penguasa. Namun lama kelamaan menjadi gerakan dakwah yang meluas dan mendapatkan dukungan. Ditambah lagi sikap pemerintahan Kaisar Romawi yang cenderung suka menindas dan korup, pejabatnya hidup bermewah-mewahan sementara rakyatnya banyak yang hidup miskin dan menderita, pajak yang tinggi namun rakyat tidak sejahtera, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya maka banyak orang bergabung dengan gerakan Arius ini. Di berbagai tempat, Arius menyampaikan dakwahnya. Agar manusia kembali menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan mengimani Yesus sebagai Nabi dan Rasul-Nya, juga tidak lupa untuk menjalankan seluruh ajaran beliau yang memuat kesetaraan kedudukan seluruh manusia dihadapan Tuhan.

Tentu saja penguasa Romawi berang. Mereka mulai mencoba segala cara untuk membungkam dakwah Arius. Mulai dari cara halus dengan bujuk rayu dan iming-iming kekayaan hingga cara kasar yaitu dengan penangkapan dan penjara. Namun ternyata, penjara bukanlah halangan bagi Arius dan pengikut setianya untuk mendakwahkan hal yang benar. Akhirnya, Kaisar Romawi mengeluarkan titah yang tidak boleh dibantah. Arius dan Pengikutnya wajib dibunuh tanpa kecuali. Termasuk anak keturunan bahkan bayi yang baru lahir pun juga wajib dibunuh!

Arius dan pengikutnya akhirnya dieksekusi dengan kejam. Hari-hari berikutnya, selama tujuh tahun ke depan terjadi perburuan terhadap para pengikut ajaran Arius. Mereka yang tertangkap lalu dibunuh secara keji. Bukan saja dibunuh, namun buku-buku mereka di rampas untuk kemudian dibakar. Selama empat puluh tahun, pembersihan dan pembasmian terhadap ajaran Arius bersifat sistematis dan masif. Sehingga, lima puluh tahun kemudian, seluruh rakyat Romawi sudah melupakan Arius dan ajarannya. Nama Arius hanya tersebar di kalangan Kaisar dan keturunannya. Bukan bermaksud untuk mempelajari ajarannya, namun lebih menitikberatkan kepada kebencian akan ajaran Arius yang dianggap sesat dan menyimpang.

Heraklius masih terpana. Tatapan matanya kosong. Namun otaknya berpikir keras. Mengapa seorang Arab yang berasal dari tanah padang pasir nan tandus, hidup ditengah suku yang barbar, dan tidak bisa membaca dan menulis, bahkan surat yang disampaikannya pun ditulisi orang lain, mengenal nama Arius? Bahkan nama itu sudah terkubur selama tiga ratus lalu, namun mengapa si orang Arab bernama Muhammad bin Abdullah dan mengaku sebagai utusan Tuhan itu malah mengetahuinya? Dijaman itu, buku-buku sangat terbatas. Jarak antara Roma dengan Madinah di Jazirah Arab hampir dua bulan perjalanan dengan berkuda. Belum ada telepon, faksimili apalagi internet. Mengapa dia begitu mengenal Arius?

Dalam hati, Heraklius berkecamuk perasaan lain. Dia, Muhammad bin Abdullah, mengaku sebagai utusan Tuhan. Sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Tentu saja hal itu benar, sebab tidak ada seorang pun yang tahu siapa Arius. Jangankan orang diluar Romawi, di dalam Romawi pun tidak mengenal siapa Arius. Darimana dia tahu siapa Arius kalau bukan dari Tuhan yang mengutusnya? Ya, dia pasti utusan Tuhan sebagaimana yang tertera dalam Kitab Injil. Heraklius masih ingat, meskipun Kitab Injil sudah mengalami banyak modifikasi namun masih terselip ayat-ayat yang bercerita tentang utusan Tuhan yang terakhir. Ya, pastilah dia orangnya.

Namun tiba-tiba ada perasaan yang lain menyergah hatinya. Apa jadinya jika seorang Kaisar Romawi, sang penguasa benua biru, yang memiliki ratusan ribu bala tentara yang ditakuti seluruh dunia, tiba-tiba harus mengikuti ajaran baru dari tanah padang pasir nan tandus dan gersang, bahkan sang tokoh pun tidak bisa membaca dan menulis? Mau ditaruh dimana kehormatan dan keagungan kekaisaran Romawi jika Heraklius mengikuti ajaran Muhammad bin Abdullah, orang yang berasal dari padang pasir yang tidak punya apa-apa selain beberapa pengikut setia? Lalu apa kata dunia, jika Heraklius Sang Kaisar Romawi yang perkasa sekaligus penguasa Tanah Benua Eropa,  tunduk dan patuh kepada seorang dari Tanah Arab yang bukan siapa-siapa itu?

Pikiran dan perasaan Heraklius berkecamuk. Batinnya tidak tenang. Antara menerima atau menolak ajaran dari Muhammad bin Abdullah tersebut. Hatinya bercampur antara galau dan bimbang. Namun entah mengapa ada keberanian untuk berkata-kata. Dia pun berujar kepada sang utusan, “Sampaikan kepada Nabi anda bahwa saya menolak ajarannya. Namun demikian, anda saya perlakukan dengan baik layaknya tamu Kaisar yang lain”.

“Baiklah tuan kaisar. Terima kasih. Namun saya sama sekali tidak punya kepentingan disini. Oleh karena itu, Saya mohon pamit”, demikian kata sang utusan kemudian dia pun pergi.

Heraklius pun hanya memandangi sang utusan melangkah pergi. Dia masih berpikir. Antara percaya dan tidak percaya dia telah menolak ajaran yang dibawa Muhammad bin Abdullah tersebut. “Suatu hari, ajarannya akan sampai ditempat aku berdiri”, demikian gumamnya. Namun entah mengapa rasa enggan tersebut masih ada.
 
Heraklius kembali duduk di singgasanannya. Dia masih galau. Perasaannya campur aduk tidak karuan. Dia merasa, hari-hari kedepan sampai dengan ajalnya akan dipenuhi perasaan yang lain. Sebuah kegalauan hebat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kini, dia hanya termangu, menantikan hari-hari yang panjang dengan perang perasaan di dalam hati yang tak pernah terbayangkan sebelumnya!

Rabu, 15 Oktober 2014

Kalah Lagi ..... Kalah Lagi......

Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19 Gagal Total di Putaran Final Piala Asia Football Cup (AFC) di Myanmar tahun ini! Berita yang sangat mengejutkan. Boleh dikatakan, inilah anti klimaks dari perkembangan sepakbola di Indonesia. Setelah sejak tahun lalu, kita di nina bobokan dengan prestasi yang diukir oleh Timnas U-19, kini harapan tersebut kembali meredup dan sirna.

Sejujurnya, saya tidak menyalahkan Evan Dimas dan kawan-kawan atas kegagalan total di Putaran Final AFC tahun ini. Juga saya tidak menyalahkan Indra Sjafri sebagai pelatih mereka. Namun saya sangat menyayangkan tindakan pengurus PSSI yang terkesan lebih banyak memberikan "bumbu manis" bagi rakyat Indonesia yang senantiasa haus kemenangan. Dimulai dari gelaran Tur Nusantara Jilid I dan II, Timur Tengah dan Turnamen Hasanah Bolkiah. Barulah ketika hasil Turnamen Hasanah Bolkiah menunjukan hasil mengecewakan, maka Timnas U-19 langsung terbang ke Spanyol. Menghadapi Tim Elit negeri matador seperti Barcelona, Real Madrid dan Atletico Madrid. Meskipun hasilnya sudah bisa ditebak! Kalah secara beruntun !.

Hasil dari Tur Nusantara dan Timur Tengah, menurut pandangan saya, juga terkesan masih memilih lawan. Dipilihlah lawan yang secara teknis masih dibawah Timnas U-19. Sehingga mereka pun mudah meraih kemenangan atau minimal seri. Akibat tindakan nina bobok ini sebetulnya merusak Timnas U-19. Mereka jadi terbiasa menghadapi lawan yang lebih rendah dari mereka. Hasil inilah yang kemudian saya tandai makin menguat di Turnamen Piala AFC Tahun ini.

Lihatlah, betapa pontang-pantingnya mereka ketika berhadapan dengan Uzbekistan. Seperti gugup saat menghadapi Australia dan terlihat kikuk berhadapan dengan Uni Emirat Arab. Cukuplah tontonan tadi menjadi bukti kuat bahwa Timnas U-19 ini menjadi tim yang semakin lama semakin lemah.

Saya memandang jalan keluarnya adalah Pertama, mengantarkan Timnas ini menjadi Timnas Senior atau minimal menjadi Timnas U-23. Dengan talenta yang sedemikian banyak bertaburan serta modal dukungan masyarakat yang sangat kuat maka keberadaan mereka dalam perkembangan Sepakbola Indonesia menjadi hal yang penting! Karena itu, menjadi tugas dari Pelatih Indra Sjafri untuk mengantarkan mereka menjadi Timnas U-23 bahkan sampai menjadi Timnas Senior.

Kedua, buat program pelatihan yang lebih bersifat keikutsertaan di Turnamen Internasional, naik bersifat mini maupun Turnamen Lengkap. Ada banyak Event Internasional yang bisa diikuti oleh Timnas U-19 diluar negeri sehingga mereka mampu memiliki jam terbang yang sesungguhnya dalam tiap Turnamen Internasional yang mereka ikuti.

Ketiga, terkait dengan langkah ketiga, maka pilihlah Turnamen Internasional yang memang diisi oleh negara-negara yang memiliki latar sepakbola yang kuat seperti negara Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah dan Timur Jauh! Dengan demikian, meskipun pada awalnya mereka akan menemui kekalahan demi kekalahan, setidaknya mereka belajar dari tim-tim tersebut bagaimana membuat sebuah tim yang solid, skill yang memadai dan kerja sama yang apik.

Selamat melangkah Timnas U-19, yakinlah, harapan itu akan selalu ada buat kalian.

Senin, 07 Juli 2014

Sebuah Cerita untuk Pemilihan Umum Presiden Besok !

Saya cuma tertegun. Menyaksikan banyak komentar dan hujatan kepada Wakil Gubernur Jawa Barat di dunia maya. Mereka memprotes lantaran Beliau lebih banyak melakukan kegiatan Syuting Sinetron dan iklan ketimbang bekerja untuk rakyat. Saya berpikir, akankah kejadian yang sama terulang pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tanggal 9 Juli 2014 besok ?

Lho, apa hubungannya? Jelas ada!

Bukankah pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Jawa Barat Tahun 2013 lalu, Beliau terpilih sebagai Pimpinan Daerah melalui proses pemungutan suara di TPS-TPS ? Siapakah yang memilih beliau? Jelas rakyat secara mayoritas! Rakyat mayoritas yang memilih Beliau sebagai Kepala Daerah. Konsekuensinya sudah jelas! Apa pun kebijakan dan tindak-tanduknya dalam memimpin Daerah sudah selayaknya di dukung. Termasuk keinginan Beliau untuk tetap bisa syuting sinetron dan iklan. Sehingga sungguh tidak layak ketika Beliau di berikan komentar negatif apalagi dihujat.

Lalu apakah tidak boleh mengkritik beliau ?
Kritikan jelas boleh. Namun lebih baik kritikan itu disampaikan secara langsung berupa nasehat. Bukan di sosial media apalagi dunia maya. Sebagai pendukung dan pemilih setia, sudah seharusnya menyampaikan nasehat. Bukan umpatan, caci maki apalagi hujatan.

Kenapa Saya boleh mengkritik? Sederhana ! Karena terus terang saya bukan memilih Beliau ketika Pemilukada kemarin. Sehingga, saya punya alasan untuk tetap mengkritisi apa pun kebijakan beliau dalam memimpin daerah Jawa Barat, yang kebetulan menjadi tempat saya tinggal. Cukuplah alasan tidak memilih beliau sebagai bahan utama mengapa saya tetap mengkritisi kebijakan-kebijakan serta tindak-tanduk Pemimpin Jawa Barat.

Lalu apa hubungannya dengan Pilpres besok? Saya cuma mengingatkan kepada anda semua pembaca Blog ini, konsistenlah dengan pilihan anda. Ketika pilihan anda dinyatakan sebagai "yang terpilih" (Maaf, saya tidak menyebutnya Pemenang karena ini dalam rangka memillih pemimpin bangsa dan negara BUKAN pertandingan-red), maka dukunglah apa pun langkah dan tindak tanduknya. Berikan nasehat sebatas yang anda mampu jika "yang terpilih" melakukan penyimpangan atau tindakan yang tidak pantas lainnya. Dukunglah sepenuhnya. Jangan memberikan umpatan apalagi hujatan di dunia maya maupun dunia nyata jika Beliau bertindak yang tidak pantas dan juga tidak berkeadlian.

Karena itulah, hati-hati sebelum anda menjatuhkan pilihan ! Karena suara yang anda berikan bukan cuma menentukan nasib negara dan bangsa selama 5 tahun ke depan akan tetapi bakal dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Jika pilihan anda yang menjadi pemimpin negara dan bangsa ini ternyata berbuat curang, fasik dan zalim, maka di Pengadilan Mahkamah Yang Maha Kuasa tidak ada alasan bagi Beliau untuk tidak meminta pertanggungjawaban anda sebagai pemilih!


Cilodong, Menjelang Sore 7 Juli 2014

Minggu, 21 Juli 2013

Hikmah Diharamkannya Emas untuk Laki-laki



Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW mengambil sepotong kain sutra dan sebuah perhiasan emas. Beliau bersabda, “Kedua benda ini di haramkan buat umatku yang laki-laki namun dihalalkan untuk kaum wanitanya”. Mendengar sabda beliau, salah seorang shahabat laki-laki membuang cincinnya yang terbuat dari emas. Beliau bersabda lagi, “Salah seorang dari kalian telah membuang cincin yang terbuat dari api neraka”.

Selaku orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kita tentunya patuh terhadap apa-apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun, berabad-abad kemudian, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita makin tahu hikmah di balik larangan yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dilansir oleh Genius Beauty, para ilmuwan telah membuktikan secara ilmiah bahwa emas mendatangkan pengaruh buruk bagi pria. Pria yang terlalu lama mengenakan emas bisa mengalami masalah pada organ gonadnya atau testis, yang berfungsi sebagai tempat memproduksi sperma. Dan, efek memakai emas yang ini hanya dialami oleh pria, bukan wanita.

Seperti dikutip dari Xbobo dari Meishicina.com, pemakaian emas yang terlalu lama membuat tubuh pria terpapar dengan zat aktif emas. Emas mulai teroksidasi dan memunculkan beberapa senyawa. Senyawa ini jika masuk ke tubuh pria dapat mempengaruhi testis dan mengganggu fungsi kerjanya.

Sedikit saja dari senyawa oksidasi emas dapat memperburuk kesehatan testis pria. Sebab, dengan beberapa miligram saja, senyawa itu sudah dapat merusak testis sehingga meningkatkan risiko kemandulan.

Dalam jangka panjang, pemakaian emas bagi pria dapat menyebabkan peradangan akar syaraf. Jika menggunakan cincin akan menimbulkan aterosklerosis atau radang pembuluh darah dan hipertensi. Risiko lainnya yang timbul adalah timbulnya duodenum alias pembusukan usus 12 jari.

Mengapa tidak di haramkan bagi wanita ? Karena ternyata, senyawa emas tersebut dikeluarkan dari tubuh bersamaan dengan darah kotor yang dihasilkan dari proses menstruasi. Jadi secara alami, tubuh wanita lebih bisa membersihkan diri sendiri dari senyawa berbahaya yang dihasilkan emas ketimbang tubuh pria.

Shadaqallahu wa rasuluh. Karenanya, apa yang dilarang oleh Rasulullah SAW wajib bagi kita untuk menjauhinya. Sementara apa yang diperintahkan oleh beliau wajib bagi kita untuk melaksanakannya. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalankan ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari.

Senin, 24 Juni 2013

Cerita Fiksi



Pengantar :
Saya mencoba menulis Fiksi pada Blog ini. Mudah-mudahan bisa dinikmati. Jika ada kekurangan silahkan menyampaikan kritik dan saran ke samudra.gunadharma@gmail.com . Selamat membaca!


Lelaki Misterius nan Menawan

Sore itu, seperti biasa, aku duduk-duduk di warung rokok yang terletak diujung jalan. Sambil mengawasi gerobak gorenganku aku berbincang-bincang dengan Mpok Danu, si pemilik warung rokok. Pembicaraan kami pun hampir sama dengan hari-hari yang lalu. Mulai dari gosip artis, permasalahan kehidupan, sampai terkadang hanya sekedar canda ria.
Ketika sedang asyik bercengkerama, tiba-tiba Mas Tarsidi si tukang parkir berteriak, “Wooii Teh Risma, tuh ada yang mau beli gorengan!”.
Aku pun bergegas menuju ke gerobak gorenganku. Terlihat seorang lelaki memakai jaket kulit hitam tengah berdiri dekat gerobakku. Dia mengamati tumpukan gorengan yang sangat banyak yang ada di etalase kaca gerobakku. Maklum saja, dari tadi siang belum ada seorang pun yang membeli gorenganku.
Aku menemuinya. Dia melemparkan senyum sambil berkata, “Beli gorengannya mbak. Sepuluh Ribu Rupiah saja!”.
“Dicampur Pak?”, tanyaku kemudian. “Tempe, Tahu dan Bakwan saja. Perbanyak tahunya ya!”, katanya sambil menyerahkan selembar uang sepuluh ribu.
Aku langsung membungkus pesanannya. Sambil memilih gorengan dia berkata, “Wah, cepat juga layanannnya. Suasana sore begini memang enak makan gorengan!”, sambil mengambil bungkusan gorengan dari tanganku dengan tetap tersenyum. Setelah itu dia pun pergi.


Beberapa hari kemudian…..
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Panas badan anakku, Dinda, semakin meninggi. Aku bingung karena aku sama sekali tidak punya uang untuk membawanya ke dokter. Kegagalan pernikahan sampai dua kali yang kualami membuatku harus berjuang sendirian menghidupi Dinda dan aku di pinggiran Ibu Kota yang kejam ini. Namun hari itu aku terpaksa harus berjualan, karena ketika kucoba meminta bantuan utang ke tetangga sekitarku mereka pun dalam kondisi yang tidak memiliki banyak uang.
Sore menjelang Maghrib, cuaca sangat tidak bersahabat. Hujan turun dengan cukup deras. Aku tidak duduk di Warung Mpok Danu karena kebetulan sedang tutup lantaran dia sedang menghadiri pesta pernikahan sepupunya di Bogor. Aku terpaksa memasang tenda sederhana di gerobakku. Aku duduk termangu. Memikirkan Dinda yang sedang sakit dan terpaksa kutitipkan ke Mak Encum, nenek tetanggaku yang baik hati. Aku tidak bisa berbuat banyak lantaran gorenganku masih tersisa banyak. Aku membutuhkan banyak uang untuk sekedar menyambung hidup dan membawa Dinda ke Dokter. Tanpa terasa, air mataku meleleh di pipi.
“Kok bengong sih Mbak ?”, kata seorang lelaki yang berdiri dibelakangku. “Dari tadi saya bilang mau beli gorengan mbak diam saja”.
Aku pun tersadar. Mulai mengusap air mataku. Ketika ku balikan badan betapa terkejutnya aku. Ternyata dia adalah lelaki yang sama ketika membeli gorengan beberapa hari lalu ! Mengenakan jaket kulit hitam dan bercelana jeans serta bersepatu kets warna putih. Aku segera merapikan penampilanku. Ku akui aku belum sempat berganti pakaian. Sore itu aku hanya mengenakan kaos berkerah dengan celana jeans tiga perempat.
“Saya lagi ada acara pertemuan dengan teman-teman kantor. Jadi saya beli semua gorengannya !”, katanya kepadaku.
Betapa terkejutnya aku! Disaat aku sedang kesulitan keuangan, ternyata ada orang yang datang menolongku. Dengan sigap aku segera membungkuskan semua gorengan yang ada dan menyerahkannya ke tangannya. “Semuanya jadi empat puluh ribu Pak!”, kataku.
Sambil tertawa kecil, dia menyerahkan selembar uang seratus ribu. “Ambil saja kembaliannya mbak! Kebetulan, saya baru dapat proyek di luar daerah. Hitung-hitung bagi rejeki!”, katanya sambil tersenyum dan berlalu.
Aku pun terbengong-bengong dengan ulahnya. Belum sempat kuucapkan terima kasih dia sudah menghilang di ujung jalan. Dengan segera, aku menutup gerobakku dan membawanya ke tempat penitipan dan aku langsung pulang ke rumah kontrakanku. Untuk kemudian membawa Dinda ke dokter.

Syukurlah ternyata Dinda hanya demam biasa. Ternyata biaya pengobatannya hanya menghabiskan uang Tiga Puluh Ribu Rupiah saja. Sehingga aku ada sisa uang Tujuh Puluh Ribu Rupiah. Sisa itulah aku belikan Dinda makanan di restoran McDonald tak jauh dari gang dekat rumah. Maklum, Dinda sangat menginginkan sekali bisa makan di McDonald dari dulu. Ketika melihat Dinda makan dengan lahap aku menangis haru! Haru, karena baru kali ini aku bisa memenuhi keinginan Dinda dari dulu!
“Kok mama nangis sih ?”, kata Dinda. “Khan, Dinda sudah sembuh. Eh iya, makasih ya mah! Mamah bisa membawa Dinda kesini. Nanti Dinda rajin-rajin berdoa, semoga Mamah bisa sering bawa Dinda kesini”, katanya dalam ekspresi yang polos.

Aku memeluk anakku satu-satunya itu sambil menahan tangisku. Aku berkata, “Iya, Mamah percaya Dinda pasti baik sama Mamah. Doain Mamah ya sayang!”.
Boleh dikatakan, Dinda adalah satu-satunya harapanku untuk menjalankan kehidupan yang sangat keras ini. Dia adalah buah cintaku dari suami keduaku, yang entah kenapa pergi memilih wanita lain yang lebih menjanjikan padahal banyak orang yang bilang aku lebih cantik ketimbang kekasihnya. Sebelum menikah dengannya aku sudah pernah menikah dengan seorang duda yang bertetangga dengan kampung orang tuaku. Aku menyetujuinya lantaran orang tuanya sudah lama berteman dengan orang tuaku. Namun aku hanya bertahan dua tahun dengannya, karena setiap hari dia selalu rajin menyakiti badanku. Entah sudah berapa banyak tendangan, tamparan dan pukulan yang kuterima. Untunglah orang tuaku mengerti sehingga perceraianku dengan sang duda tersebut berlangsung dengan cepat dan mulus.

Enam bulan kemudian, bertepatan dengan ulang tahunku yang ke dua puluh tahun aku bertemu dengan teman sepermainanku waktu kecil yang bekerja di Ibu Kota. Tanpa banyak berpikir, aku menerima lamarannya dan kedua orang tuaku setuju untuk menikahkanku. Tak lama kemudian, aku dibawa ke pinggiran Ibu Kota. Awalnya, aku cuma menjadi ibu rumah tangga biasa. Kehadiran Dinda dalam kehidupan kami berdua memberikan arti yang sangat penting bagi sebuah keluarga. Namun ternyata, kebahagiaan itu tidak lama, tepatnya hanya bertahan empat tahun saja. Suamiku terkena Pemutusan Hubungan Kerja di pabriknya dan menjadi penganggur. Aku pun berinisiatif membantu ekonomi keluarga dengan menjadi penjual gorengan. Aku pun mengambil fungsi sebagai pencari nafkah di dalam keluarga.

Agaknya dari situlah awal keretakan hubungan keluarga kami. Setiap hari suamiku pergi dari rumah pagi-pagi dan baru pulang malam. Itu pun sama sekali tidak membawa uang. Ketika aku tanya dia hanya marah-marah. Puncaknya, aku mengetahui bahwa dia sedang menjalin cinta dengan putri seorang penjaga sekolah yang masih duduk di bangku SMU. Hubungan cinta mereka ternyata terlanjur jauh sehingga kekasihnya kini tengah mengandung buah cinta mereka.

Hatiku hancur. Yang lebih menyakitkan, dia sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Bahkan dia makin mantap untuk menceraikanku dan akan menikahinya. Ketika kabar itu sampai ketelinga orang tuaku Bapakku dikampung langsung jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Tak tahan ditinggal Bapak, Ibu ku pun akhirnya juga menyusul Bapak beberapa bulan kemudian. Praktis, kini aku benar-benar sebatang kara. Kini, hanya Dinda-lah satu-satunya alasan mengapa aku harus terus bertahan. Dimana hal tersebut sudah berlangsung selama dua tahun belakangan.

Malam itu Dinda tertidur dengan nyenyak. Aku bisa melihat senyum ditidurnya. Ya, dia tampak bahagia karena keinginan terbesarnya sudah terkabul. Aku memandangnya dengan terus menahan tangis haruku. Setelah kuselimuti Dinda, aku terduduk di kasur. Aku merenungi kejadian yang kualami. Akhirnya aku berpikir, justru disaat yang genting lelaki misterius itu menjadi penyelamatku!

Keesokan harinya, di waktu Sore, aku kembali berjualan gorengan seperti biasa. Hari itu, aku sangat lelah karena entah mengapa banyak yang datang ke gerobakku membeli gorengan. Dalam waktu tiga jam sejak kubuka maka gorenganku ludes. Ketika aku akan menutup gerobakku, ternyata lelaki yang sama datang lagi.
“Mbak, beli gorengannya”, katanya. “Wah habis, Pak!,” kataku.
Dia pun terlihat kecewa, namun ketika akan pergi, aku teringat kalau aku masih menyimpan tiga potong tahu isi ukuran besar yang belum sempat aku goreng di dalam gerobak. Aku pun langsung memanggil lelaki tersebut.
“Pak, tunggu!”, kataku mendekat. “Kalau Bapak mau menunggu, saya akan gorengkan tahu isi buat Bapak. Ukurannya besar Pak, tapi Cuma tinggal tiga potong. Bagaimana Pak?”.
“Yaa, boleh lah. Daripada tidak dapat apa-apa”, katanya. Dia pun duduk dekat gerobakku.
Aku pun mulai menggoreng ketiga tahu isi ukuran besar tersebut. Kucoba berbincang dengannya, sambil berterimakasih kepadanya atas uang seratus ribu rupiah yang diberikannya kemarin. Ternyata dia menjawab dengan ramah! Dia juga bercerita, kalau dia lebih sering menggunakan angkutan umum untuk pergi ketempat kerjanya karena lebih irit.
“Ini Pak, gorengannya”, kataku sambil menyerahkan bungkusan tahu isi tersebut. Dia pun menyerahkan selembar uang dua puluh ribu rupiah sambil berkata, “ambil saja kembaliannya mbak”. Sambil tersenyum dia pun menambahkan, “sayang sekali, penjualnya kurang berdandan. Untung dagangannya hari ini laku keras!”, candanya sambil berlalu dihadapanku.

Aku hanya memperhatikan langkahnya yang semakin lama semakin menjauh kemudian menghilang di ujung jalan. Entah mengapa, kata-katanya terngiang di telingaku. Aku mulai menyadari kalau selama ini, aku kurang memperhatikan penampilanku. Ya, karena penjual gorengan identik dengan orang yang kurang rapi, harus selalu kumal dan tidak perlu merias diri. Kata-katanya membekas dan menghujam ke dalam hatiku.
Keesokan paginya aku mulai merias diriku. Pagi itu, aku berdandan. Memilih pakaian terbaiku sebelum berangkat berjualan. Dinda yang melihatku berdandan memuji penampilanku. “Mamah cantik”, katanya. Aku tersenyum dan mencium pipinya. Kemudian aku menitipkan Dinda ke tetangga untuk kemudian berangkat ke tempat penitipan gerobak untuk berjualan.
Aku sibuk melayani pembeli yang datang membeli gorengan. Meskipun banyak yang datang tapi masih ada sedikit tersisa gorengan yang kugoreng tadi pagi. Tiba-tiba saja, menjelang sore, hujan turun dengan deras. Aku segera memasang tendaku dan berdiam diri. Kupandangi sisa gorengan yang ada sambil duduk berteduh dari hujan yang deras. Entah mengapa, aku rindu pada sosok lelaki misterius yang sering membeli gorenganku. Ya, aku rindu didatangi olehnya. Rindu, supaya ia datang kepadaku.
Aku melihat seorang lelaki berkemeja biru berlari kearahku. Ternyata, dia datang! Tidak mengenakan jaket kulit seperti kebiasaannya. Dia langsung masuk ke tendaku sambil mengusap kepalanya yang basah terkena hujan.
“Aha! Ternyata masih ada. Saya beli gorengannya ya mbak!”, katanya sambil mengusap sisa-sisa air di kemejanya.
“Kehujanan Pak?”, kataku. “Eh, ini tinggal sedikit. Apa semua saja ya Pak?”, tanyaku kemudian.
“Eh, iya. Tadi baru turun dari angkot. Tiba-tiba hujan deras”, katanya lagi.

Aku pun membungkuskan semua gorengan yang tersisa dan menyerahkannya. Dia pun memberikanku selembar uang lima puluh ribuan. “Ambil saja semuanya”, katanya. Sepertinya dia akan pergi karena kulihat dia mengeluarkan selembar koran dari tasnya yang akan digunakan sebagai payung.
“Pak, kenapa gak berteduh saja disini. Hujannya deras, Pak. Nanti Bapak malah sakit”, kataku yang entah kenapa ingin dia tidak langsung pergi dari tempatku.
“Ya, baiklah. Tunggu reda dulu”, katanya. Dia pun duduk ditempat duduk dekat gerobak. Aku pun duduk disampingnya.
“Boleh tahu nama Bapak?”, kataku.
“Ya, saya Rifan. Mbak namanya siapa?”, tanyanya lagi.
“Risma, Pak”, kataku.
“Jangan panggil Pak dong. Saya kan belum tua banget,” katanya.
“Iya deh, saya panggil om saja”, kataku.
“Lho, emangnya saya om-om yang suka godain ABG?”, katanya.
Aku pun tertawa mendengar omongannya. “Terserah Risma, mau mas, abang atau akang. Risma orang sunda khan ?”, katanya lagi.
“Kok mas bisa tahu?”, kataku agak heran.
“Dari logatnya”, katanya, “Sunda pisan. Tapi saya gak bisa ngomong sunda lho”, sambil tersenyum.
Aku tersenyum kepadanya. Baru kali ini di dalam hatiku ada getaran lain. Ya, aku merasakan kehangatan yang tidak biasanya dari diri Mas Rifan. Dia begitu berwibawa. Dari pakaian yang dikenakan aku mengira dia bukan orang sembarangan. Dari caranya berbicara, dia sosok yang cerdas. Getaran hati ini makin terasa karena dia ternyata pandai bercanda. Belum pernah, aku tertawa selepas ini bersama dengan lelaki yang asing.

Tiba-tiba saja petir bergemuruh dengan kencang. Angin pun bertiup dengan kerasnya. Menerbangkan sampah yang bertebaran di jalan. Dengan refleks, aku melompat dari kursiku dan memeluk tubuh Mas Rifan. Mas Rifan kaget. Namun, aku sempat memeluk tubuh kekarnya. Tangannya memegang tanganku.
“Gak apa-apa Risma. Cuma angin dan petir kok. Jangan takut.”, katanya.
Aku tidak menjawab, tapi kuakui dalam diri ini ada perasaan lain waktu aku memeluknya. Tubuhnya yang kekar dan wangi semerbak membuatku nyaman. Ada perasaan hangat menyelimuti sekujur tubuhku. Kurang lebih sekitar tiga menit aku memeluknya. Dia pun mulai melepas pelukanku dengan lembut dan perlahan. Memegang tanganku dan kembali mengajakku duduk.
“Maafkan Risma, mas. Yang tadi itu refleks”, kataku.
Dia tersenyum. “Tidak apa-apa. Yang penting Risma tidak takut lagi”, katanya sambil memegangi jari tanganku.
“Nah gitu dong! Kalau berdagang harus berdandan. Masak berjualan dengan pakaian yang kumal. Khan lebih cantik kalau begini”, katanya seolah ingin menggodaku.

Aku pun tersenyum. Hatiku terasa berbunga-bunga. Ketika tangannya ingin melepas jariku aku menahannya. Hujan turun dengan derasnya. Aku pun merapat kedekatnya.
Mas Rifan merangkul tubuhku. Tangan kirinya memegangi jari-jemariku sementara tangan kanannya membelai rambutku. Aku terlena. Ku dekatkan kepalaku ke dadanya yang bidang. Dia memberanikan diri untuk mengecup dahiku. Terasa ada perasaan hangat di dalam tubuhku. Tanpa di kuduga, dia menarik leherku dan mencium bibirku! Mulanya aku sangat kaget, tapi entah mengapa kubiarkan dia mencium bibirku. Sejujurnya, timbul desir-desir di dalam hatiku saat Mas Rifan mencium bibirku. Aku pun memejamkan mata. Membuka mulutku agar lidahnya bisa masuk. Lidah kami saling membelit dan bertukar ludah. Cukup lama juga kami berciuman. Kira-kira dua menit kemudian, Mas Rifan menyudahi ciumannya. Dia membelai rambutku dan mengecup keningku.


“Maaf Risma, aku sudah keterlaluan”, katanya seperti penuh sesal. “Aku harus pergi. Tampaknya hujannya sudah mau reda”, katanya sambil bangkit dari tempat duduk plastik. Membentangkan koran dan tampak tergesa-gesa ingin pergi.
“Mas Rifan ! Ini gorengannya”, kataku sambil menyerahkan bungkusan gorengan tersebut.
Mas Rifan tersenyum. Dia mengambil gorengannya kemudian berlari ditengah hujan yang mulai mereda sambil membentangkan koran menutupi kepalanya. Aku masih memandanginya sampai dia menghilang diujung jalan. Aku mulai merapikan gerobakku untuk kembali ke pangkalan dan pulang kerumah. Hari itu, aku berhasil mengumpulkan uang hampir dua ratus lima puluh ribu rupiah. Cukup untuk membeli makanan untuk aku dan Dinda.


Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku masih terbayang perlakuan ketika Mas Rifan mencium bibirku dimana aku begitu menikmatinya!. Ya, pikiranku tertuju kepada Mas Rifan seorang. Akankah aku bertemu dengannya besok? Padahal belum sehari aku berpisah dengannya, namun kerinduan ini semakin menajam.
Dua kali sudah aku mengalami kegagalan dalam pernikahan. Membuatku memutuskan untuk menutup pintu hatiku untuk makhluk yang bernama laki-laki. Tapi entah mengapa, sejak kehadiran Mas Rifan hatiku makin berbunga dan mekar! Aku lebih optimis dalam memandang kehidupan. Karenanya, Dinda cukup heran melihat aku yang lebih ceria. Biasanya, dia selalu memandangku dalam keadaan sedih dan jarang bergembira.
“Mamah sepertinya senang banget. Ada apa sih Mah?”, tanyanya polos.
“Ah, enggak. Hari ini dagangan mamah laku semuanya!”, kataku mencoba berbohong.
“Tapi kemarin dagangan mamah banyak yang laku. Mamah gak sebahagia ini”, katanya lagi.
Aku memeluknya dan mengatakan kepadanya, “Sayang, kelak ketika kamu besar nanti. Kamu pasti akan merasakan apa itu jatuh cinta”.
Dia melepas pelukanku dan berkata, “Jadi mamah jatuh cinta? Sama siapa mah”, tanyanya dengan penuh keheranan.
Aku mencubit hidungnya, “Kamu mau tahu aja!”. Kami pun saling tertawa.


Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Setelah mandi, aku memilih pakaian terbaiku dan berdandan secantik-cantiknya. Banyak orang keheranan akan penampilanku, tapi semuanya memuji kecantikanku. Aku menuju tempat penitipan gerobak dan mulai mendorong gerobakku ke tempat biasa aku berjualan dengan wajah ceria.
Kulayani setiap pembeli yang datang dengan wajah gembira. Aku merasa bahagia dan senang. Namun demikian, sesekali aku selalu memandang ujung jalan. Berharap Mas Rifan datang untuk membeli gorengan atau hanya sekedar mampir. Aku pun tak keberatan jika seandainya Mas Rifan membawaku pergi kesuatu tempat untuk mengulangi kembali apa yang sudah pernah dia lakukan terhadapku. Bahkan lebih jauh dari itu pun aku rela!
Sampai sore menjelang maghrib, aku terus menatap ujung jalan. Namun ternyata Mas Rifan tidak datang. “Mungkin dia akan datang besok”, kataku dalam hati. Hari itu penjualan gorenganku kembali lancar. Selepas ashar tadi, gorenganku sudah terjual habis. Kembali kututup gerobakku dan melangkahkan kaki pulang ke rumah.


Demikianlah aku menjalani hari demi hari. Memang benar, sejak aku merubah penampilanku daganganku menjadi laris. Perlahan tapi pasti tabunganku semakin banyak. Sebulan kemudian, aku memutuskan untuk pindah ke sebuah kontrakan yang lebih baik. Aku mengontrak di sebuah rumah yang cukup besar. Dari hasil penjualan gorengan, aku bisa menyekolahkan Dinda ke TK terdekat. Semakin lama, omset gorenganku semakin banyak. Kini aku punya tiga buah gerobak gorengan dimana kedua gerobakku yang lain dijalankan oleh orang-orang kepercayaanku.

Tak terasa, sudah enam bulan berlalu. Aku masih setia memandang ujung jalan tempat aku berjualan. Berharap, Mas Rifan kembali datang menemuiku. Aku mengakui, bahwa kini aku semakin mencintainya. Aku memiliki angan-angan dan harapan. Harapan supaya kelak dia mau menjadi suamiku. Menyayangi aku dan Dinda sepenuh hati. Namun entah mengapa, dia kini bak ditelan bumi. Aku masih setia menunggunya dan tak pernah putus berharap. Tidak tahu sampai kapan, harapan untuk bertemu dengannya masih ada dalam hatiku. Dia memang misterius, semisterius kehadirannya dalam kehidupanku. Tapi dia berhasil menjeratku dalam panah cintanya. Membuat seumur hidupku terperangkap dalam cinta dan rindu yang amat sangat senantiasa membakar hatiku.


Inspired by real short-story, I read twenty years ago

Jakarta, 20 Juni 2013