Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2014

History Re-Enactment (Bagian Pertama)



Pengantar:
Dalam blog ini, saya mencoba menulis reka ulang sejarah atas beberapa fakta sejarah yang muncul. Tentunya, di dalam penulisan ini saya mencoba memasukan sedikit unsur fiksi yang berasal dari imajinasi saya sendiri. Namun demikian, hal tersebut tidak mengurangi unsur sejarah yag terkandung di dalamnya.
Selamat membaca!

Roma, Tahun 631 Masehi
Deru kaki kuda itu pun mulai terdengar semakin kencang. Kuda yang ditunggangi oleh pria yang berbaju rapi dan berwajah tampan itu mulai memasuki pelataran istana sang Kaisar Romawi. Kemudian berhenti tepat di depan para penjaga. Sang pria itu pun turun dan menerangkan maksud kedatangannya. Mulanya para penjaga tidak akan memberikan izin untuk masuk. Namun melihat dari si pria tersebut membawa surat diplomatik penting, maka mereka mengizinkannya untuk memasuki istana. Tanpa banyak basa-basi segera saja si penunggang kuda tersebut memasuki istana sang kaisar.
Tibalah dia di hadapan Kaisar Romawi yang bernama Heraklius. Setelah memberikan hormat, pria tadi mengeluarkan selembar surat penting. Lengkap dengan cap diplomatik. Surat tersebut disampaikan kepada Kaisar Heraklius.
“Tolong terjemahkan isi surat itu kepadaku, lalu bacakan”, kata sang kaisar. “Aku tidak mengerti Bahasa Arab”, katanya lagi.
Maka dibacakan terjemahan isi surat tersebut,

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Dari hamba Allah dan Rasul-Nya, Muhammad bin Abdullah
Kepada Heraklius, Kaisar Romawi
Saya menawarkan Islam kepada anda. Karenanya, mari anda bergabung untuk masuk ke dalam Islam. JIka anda tidak menerima Islam, sungguh anda akan menanggung dosa Arius berikut pengikutnya.
Katakanlah, Hai Ahli Kitab, marilah berpegang teguh kepada satu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak ada kita sembah selain Allah dan tidak ada persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun dan tidak pula sebagian dari kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikan bahwa kami adalah muslim”.

Tertanda,

Muhammad bin Abdullah.

Tersentak Heraklius mendengar isi surat yang dibacakan oleh pria tadi, dimana surat itu menyebut nama Arius!  Yang dia ketahui, nama itu sudah terkubur selama tiga ratus tahun. Tidak ada yang tahu tentang Arius, kecuali para kaisar dan keturunannya. Darimana dia, orang yang bernama Muhammad bin Abdullah dan berasal dari padang pasir yang tandus bisa tahu?

Ingatan Heraklius tertuju ke kejadian tiga ratus tahun yang lalu. Menindaklanjuti Konsili Nisczhea pada tahun 325 Masehi, maka seluruh Romawi sepakat untuk menerima Agama Nasrani yang sudah dimodifikasi sesuai dengan keinginan penguasa Romawi saat itu. Dimana doktrin Agama Nasrani menetapkan bahwa ada Trinitas yang merupakan satu kesatuan. Yakni Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Tuhan Bapak adalah Allah, Tuhan Anak adalah Yesus. sedangkan Roh Kudus adalah Tuhan Pembawa Wahyu. Hasil konsili menetapkan bahwa doktrin tersebut merupakan dogma yang tidak boleh dibantah apalagi dipertanyakan. Barang siapa yang menentang dogma tersebut maka akan disebut sesat dan di cap sebagai pemberontak negara yang sangat berbahaya.

Seluruh rakyat menerima dogma tersebut dan ramai-ramai memeluk agama baru yang sudah di modifikasi tersebut. Semua menerima, kecuali seorang pendeta bernama Arius. Arius menentang dogma tersebut. Arius berkeyakinan bahwa Tuhan adalah Satu. Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Sedangkan Yesus. adalah utusan-Nya kepada umat manusia. Tidak mungkin, utusan Tuhan menjadi Tuhan. Bahkan, Yesus sendiri menegaskan dalam Kitab Injil, bahwa beliau hanya Nabi dan Rasul-Nya.

Mulanya dakwah Arius dianggap sebagai angin lalu oleh penguasa. Namun lama kelamaan menjadi gerakan dakwah yang meluas dan mendapatkan dukungan. Ditambah lagi sikap pemerintahan Kaisar Romawi yang cenderung suka menindas dan korup, pejabatnya hidup bermewah-mewahan sementara rakyatnya banyak yang hidup miskin dan menderita, pajak yang tinggi namun rakyat tidak sejahtera, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya maka banyak orang bergabung dengan gerakan Arius ini. Di berbagai tempat, Arius menyampaikan dakwahnya. Agar manusia kembali menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan mengimani Yesus sebagai Nabi dan Rasul-Nya, juga tidak lupa untuk menjalankan seluruh ajaran beliau yang memuat kesetaraan kedudukan seluruh manusia dihadapan Tuhan.

Tentu saja penguasa Romawi berang. Mereka mulai mencoba segala cara untuk membungkam dakwah Arius. Mulai dari cara halus dengan bujuk rayu dan iming-iming kekayaan hingga cara kasar yaitu dengan penangkapan dan penjara. Namun ternyata, penjara bukanlah halangan bagi Arius dan pengikut setianya untuk mendakwahkan hal yang benar. Akhirnya, Kaisar Romawi mengeluarkan titah yang tidak boleh dibantah. Arius dan Pengikutnya wajib dibunuh tanpa kecuali. Termasuk anak keturunan bahkan bayi yang baru lahir pun juga wajib dibunuh!

Arius dan pengikutnya akhirnya dieksekusi dengan kejam. Hari-hari berikutnya, selama tujuh tahun ke depan terjadi perburuan terhadap para pengikut ajaran Arius. Mereka yang tertangkap lalu dibunuh secara keji. Bukan saja dibunuh, namun buku-buku mereka di rampas untuk kemudian dibakar. Selama empat puluh tahun, pembersihan dan pembasmian terhadap ajaran Arius bersifat sistematis dan masif. Sehingga, lima puluh tahun kemudian, seluruh rakyat Romawi sudah melupakan Arius dan ajarannya. Nama Arius hanya tersebar di kalangan Kaisar dan keturunannya. Bukan bermaksud untuk mempelajari ajarannya, namun lebih menitikberatkan kepada kebencian akan ajaran Arius yang dianggap sesat dan menyimpang.

Heraklius masih terpana. Tatapan matanya kosong. Namun otaknya berpikir keras. Mengapa seorang Arab yang berasal dari tanah padang pasir nan tandus, hidup ditengah suku yang barbar, dan tidak bisa membaca dan menulis, bahkan surat yang disampaikannya pun ditulisi orang lain, mengenal nama Arius? Bahkan nama itu sudah terkubur selama tiga ratus lalu, namun mengapa si orang Arab bernama Muhammad bin Abdullah dan mengaku sebagai utusan Tuhan itu malah mengetahuinya? Dijaman itu, buku-buku sangat terbatas. Jarak antara Roma dengan Madinah di Jazirah Arab hampir dua bulan perjalanan dengan berkuda. Belum ada telepon, faksimili apalagi internet. Mengapa dia begitu mengenal Arius?

Dalam hati, Heraklius berkecamuk perasaan lain. Dia, Muhammad bin Abdullah, mengaku sebagai utusan Tuhan. Sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Tentu saja hal itu benar, sebab tidak ada seorang pun yang tahu siapa Arius. Jangankan orang diluar Romawi, di dalam Romawi pun tidak mengenal siapa Arius. Darimana dia tahu siapa Arius kalau bukan dari Tuhan yang mengutusnya? Ya, dia pasti utusan Tuhan sebagaimana yang tertera dalam Kitab Injil. Heraklius masih ingat, meskipun Kitab Injil sudah mengalami banyak modifikasi namun masih terselip ayat-ayat yang bercerita tentang utusan Tuhan yang terakhir. Ya, pastilah dia orangnya.

Namun tiba-tiba ada perasaan yang lain menyergah hatinya. Apa jadinya jika seorang Kaisar Romawi, sang penguasa benua biru, yang memiliki ratusan ribu bala tentara yang ditakuti seluruh dunia, tiba-tiba harus mengikuti ajaran baru dari tanah padang pasir nan tandus dan gersang, bahkan sang tokoh pun tidak bisa membaca dan menulis? Mau ditaruh dimana kehormatan dan keagungan kekaisaran Romawi jika Heraklius mengikuti ajaran Muhammad bin Abdullah, orang yang berasal dari padang pasir yang tidak punya apa-apa selain beberapa pengikut setia? Lalu apa kata dunia, jika Heraklius Sang Kaisar Romawi yang perkasa sekaligus penguasa Tanah Benua Eropa,  tunduk dan patuh kepada seorang dari Tanah Arab yang bukan siapa-siapa itu?

Pikiran dan perasaan Heraklius berkecamuk. Batinnya tidak tenang. Antara menerima atau menolak ajaran dari Muhammad bin Abdullah tersebut. Hatinya bercampur antara galau dan bimbang. Namun entah mengapa ada keberanian untuk berkata-kata. Dia pun berujar kepada sang utusan, “Sampaikan kepada Nabi anda bahwa saya menolak ajarannya. Namun demikian, anda saya perlakukan dengan baik layaknya tamu Kaisar yang lain”.

“Baiklah tuan kaisar. Terima kasih. Namun saya sama sekali tidak punya kepentingan disini. Oleh karena itu, Saya mohon pamit”, demikian kata sang utusan kemudian dia pun pergi.

Heraklius pun hanya memandangi sang utusan melangkah pergi. Dia masih berpikir. Antara percaya dan tidak percaya dia telah menolak ajaran yang dibawa Muhammad bin Abdullah tersebut. “Suatu hari, ajarannya akan sampai ditempat aku berdiri”, demikian gumamnya. Namun entah mengapa rasa enggan tersebut masih ada.
 
Heraklius kembali duduk di singgasanannya. Dia masih galau. Perasaannya campur aduk tidak karuan. Dia merasa, hari-hari kedepan sampai dengan ajalnya akan dipenuhi perasaan yang lain. Sebuah kegalauan hebat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kini, dia hanya termangu, menantikan hari-hari yang panjang dengan perang perasaan di dalam hati yang tak pernah terbayangkan sebelumnya!

Minggu, 21 Juli 2013

Hikmah Diharamkannya Emas untuk Laki-laki



Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW mengambil sepotong kain sutra dan sebuah perhiasan emas. Beliau bersabda, “Kedua benda ini di haramkan buat umatku yang laki-laki namun dihalalkan untuk kaum wanitanya”. Mendengar sabda beliau, salah seorang shahabat laki-laki membuang cincinnya yang terbuat dari emas. Beliau bersabda lagi, “Salah seorang dari kalian telah membuang cincin yang terbuat dari api neraka”.

Selaku orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kita tentunya patuh terhadap apa-apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun, berabad-abad kemudian, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita makin tahu hikmah di balik larangan yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dilansir oleh Genius Beauty, para ilmuwan telah membuktikan secara ilmiah bahwa emas mendatangkan pengaruh buruk bagi pria. Pria yang terlalu lama mengenakan emas bisa mengalami masalah pada organ gonadnya atau testis, yang berfungsi sebagai tempat memproduksi sperma. Dan, efek memakai emas yang ini hanya dialami oleh pria, bukan wanita.

Seperti dikutip dari Xbobo dari Meishicina.com, pemakaian emas yang terlalu lama membuat tubuh pria terpapar dengan zat aktif emas. Emas mulai teroksidasi dan memunculkan beberapa senyawa. Senyawa ini jika masuk ke tubuh pria dapat mempengaruhi testis dan mengganggu fungsi kerjanya.

Sedikit saja dari senyawa oksidasi emas dapat memperburuk kesehatan testis pria. Sebab, dengan beberapa miligram saja, senyawa itu sudah dapat merusak testis sehingga meningkatkan risiko kemandulan.

Dalam jangka panjang, pemakaian emas bagi pria dapat menyebabkan peradangan akar syaraf. Jika menggunakan cincin akan menimbulkan aterosklerosis atau radang pembuluh darah dan hipertensi. Risiko lainnya yang timbul adalah timbulnya duodenum alias pembusukan usus 12 jari.

Mengapa tidak di haramkan bagi wanita ? Karena ternyata, senyawa emas tersebut dikeluarkan dari tubuh bersamaan dengan darah kotor yang dihasilkan dari proses menstruasi. Jadi secara alami, tubuh wanita lebih bisa membersihkan diri sendiri dari senyawa berbahaya yang dihasilkan emas ketimbang tubuh pria.

Shadaqallahu wa rasuluh. Karenanya, apa yang dilarang oleh Rasulullah SAW wajib bagi kita untuk menjauhinya. Sementara apa yang diperintahkan oleh beliau wajib bagi kita untuk melaksanakannya. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalankan ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat, 25 Juni 2010

Refleksi Satu Tahun Blog Ini

Tanpa terasa, saya sudah memulai blog ini setahun yang lalu. Ada perasaan optimisme yang membara bahwa nantinya blog ini akan menjadi media penyemangat sekaligus penyebar inspirasi bagi semua orang. Saya memulai dengan perasaan penuh percaya diri saat itu.

Namun tiba-tiba semangat yang menggebu-gebu tersebut mulai pudar. Puncaknya terjadi pada Bulan April hingga Mei kemarin dimana saya menderita kemalasan yang luar biasa. Kemandulan pemikiran pun turut mengikutinya. Saya benar-benar buntu dan tidak memiliki modal apa pun untuk menuangkan sesuatu menjadi tulisan yang bagus.

Dalam pemikiran saya, tulisan yang bagus bukan cuma berkualitas dalam isi dan penyajian. Akan tetapi juga menyangkut aspek tata bahasa dan tujuan yang ingin dicapai. Inilah yang hendak saya tuju dalam pemuatan setiap tulisan yang ada di blog ini. Saya ingin tulisan yang dimuat disini adalah tulisan yang berkualitas, inspiratif, dan juga mampu menggerakkan semangat orang untuk berbuat dan berkarya terbaik dalam kehidupan mereka. Itulah yang membuat saya terkadang harus berhenti cukup lama untuk merancang tulisan yang bagus seperti itu. Karena pada hakekatnya, tulisan yang bermakna adalah jejak berharga yang senantiasa akan selalu bercerita tentang siapa kita, kemampuan kita dan apa yang ada di dalam diri kita.

Tetaplah semangat dan inspiratif Wahai Diriku! Sungguh Tuhanmu akan senantiasa membimbingmu ke jalan yang benar. Ke jalan yang penuh dengan keridhoan-Nya. Menuju Surga Abadi yang telah dijanjikan dalam Kitab Suci-Nya yang agung.

Minggu, 11 Oktober 2009

Musibah Itu ......

Musibah selalu menimpa kita pada waktu yang kita tidak pernah duga dan sangka. Siapa sangka, jika pada 3 September 2009 kemarin Jawa Barat diguncang gempa yang hebat namun berselang hari kemudian pada 30 September 2009, wilayah Sumatera Barat yang menjadi korban. Musibah lainnya seakan datang beruntun meski kita tidak menyadarinya. Mulai dari elit politik yang berebut kursi hingga seorang putri Serambi Mekah yang mengganti pakaian penutup auratnya dengan bikini.

Demikianlah kita dalam perjalanan pengembaraan ini. Tak selamanya perjalanan kita diwarnai dengan warna-warni nan cerah. Pelangi yang indah. Angin sepoi-sepoi yang sejuk. Serta jalan yang bertabur bunga. Namun tidak sedikit pula kita menemui jalan yang kelam, angin topan badai, guntur bergemuruh, serta kesedihan yang bagaikan tiada akhir. Itulah waran kehidupan yang sesungguhnya. Musibah dan bencana adalah sesuatu hal yang pasti akan datang kepada setiap orang dengan jadwal waktu yang selalu misterius.

Dari Kitab Suci teragung disebutkan bahwa musibah dan bencana adalah sarana untuk menguji hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh. Tentunya, ujian ini adalah menguji seberapa benarkah kadar iman seseorang. Jika dia benar-benar beriman, maka ujian itu akan semakin meningkatkan kualitas dirinya. Namun jika dia benar-benar tidak beriman, maka ujian tersebut menjadi musibah bagi dirinya sehingga dia harus dikeluarkan dari daftar orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah.

Ketika suatu musibah datang, bagaimanakah sikap kita ? Apakah kita menerima hal tersebut bagian dari takdir-Nya dan berupaya menampilkan yang terbaik ? Ataukah kita malah menyalahkan-Nya dan berputusasa dari rahmat-Nya ?

Sungguh yang terpenting bukanlah bagaimana menangani musibah. Bukan pula bagaimana agar kita yang tengah tertimpa musibah bisa melewatinya dengan mudah. Namun yang terpenting adalah sikap kita manakala musibah itu datang. Karena apa pun sikap kita, yang demikian adalah cermin bagaimana jiwa dan keimanan kita.

Pilihan manakah yang anda akan ambil ?

Rabu, 16 September 2009

Memaknai Idul Fitri

Sebentar lagi Ramadhan yang mulia akan meninggalkan kita. Tak terasa pula kita akan memasuki hari dimana banyak orang sering memaknai sebagai hari kemenangan. Namun bagi saya, istilah "kemenangan" sebenarnya kurang tepat. Karena "kemenangan" yang sesungguhnya adalah manakala kita dijauhkan oleh Allah swt. dari siksa neraka-Nya dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Lebih tepat apabila hari setelah kita berpuasa satu bulan dinamakan Idul Fitri.

Secara harfiah kata "Idul Fitri" berarti kembali kepada kesucian. Suci disini lebih kepada suci jiwa dan hati. Suci dari segala kotoran jiwa seperti malas, tidak profesional, asal-asalan dalam bekerja, tidak rapih dan sebagainya juga suci dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, hasud, dendam, pemarah dan lain-lainnya. Kesucian yang akan diraih pada hari Idul Fitri adalah wajar karena selama satu bulan kita ditempa untuk menegakkan nilai-nilai ibadah ramadhan. Yang bukan saja mengajarkan kita untuk menahan diri dari makan dan minum saja tapi juga kecenderungan kepada hawa nafsu yang merusak.

Saya tidak akan membahas fenomena masyarakat kita pada saat Idul Fitri. Rasanya terlalu banyak tulisan, artikel maupun komentar yang termuat di media lainnya. Namun semuanya mengarah kepada sebuah keprihatinan. Prihatin, lantaran kesucian Idul Fitri harus ternoda karena sikap hedonis yang dipertontonkan sebagian masyarakat. Bahkan ada disebuah wilayah di Jawa Barat beberapa tahun lalu penduduk dua desa saling berkelahi seusai shalat id karena hal sepele. Karena sudah terlalu banyak yang telah membahasnya maka saya lebih memfokuskan pada makna dari Idul Fitri itu sendiri.

Seharusnya, ketika seseorang telah ditempa oleh ujian dan latihan selama satu bulan ramadhan maka dia akan menjadi lebih ikhlas, sabar dan teguh pendirian. Dia juga lebih mampu mengendalikan hawa nafsunya dan mampu mengarahkan hawa nafsunya kepada hal-hal yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dia juga mampu untuk berempati kepada masyarakat lainnya. Meningkatkan kepekaan sosial dan menjadi manusia yang mampu berguna bagi manusia lainnya. Hal-hal seperti inilah yang sewajarnya di peroleh manakala Idul Fitri tiba.

Sebagai bahan perbandingan, marilah kita contoh kehidupan para shahabat Rasulullah Saw. Mereka benar-benar menggembleng diri mereka dalam ujian dan latihan Ramadhan. Setiap ramadhan tiba minimal satu kebiasaan atau sifat buruk dapat dibuang. Sehingga manakala Idul Fitri tiba mereka telah berhasil meninggalkan minimal satu sifat atau kebiasaan buruk tersebut. Hal ini berlangsung secara terus-menerus disetiap Ramadhan dan Idul Fitri. Sehingga tidak heran kalau mereka menjadi generasi yang unik dan penuh prestasi. Baik prestasi duniawi maupun prestasi ibadah.

Bagaimana dengan kita ? Apakah pada saat Idul Fitri datang kita telah berhasil membuang minimal satu kebiasaan atau sifat buruk kita ? Ataukah kita juga ikut terlarut dalam gaya hidup hedonistis yang dipertontonkan oleh sebagian besar masyarakat kita ? Jawabannya tentu hanya Allah dan kita saja yang tahu.

Wallahua'lam

Senin, 07 September 2009

Perlukah Mengejar Kebahagiaan ?

Semua orang di dalam perjalanan pengembaraan kehidupan ini senantiasa berbuat sangat banyak. Mereka sangat rela untuk bangun lebih awal, tidur hingga larut, juga mengorbankan waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk beristirahat dan bersenang-senang. mereka sangat sibuk. Apalagi di jaman yang serba cepat, kesibukan itu semakin meningkat dan terus meningkat. Coba tanyakan kepada mereka, apakah yang mereka kejar ? Apakah yang mereka cari ? Jawabannya mungkin bisa bermacam-macam. Namun ada satu jawaban yang pasti yakni MENGEJAR KEBAHAGIAAN !!

Semua orang ingin bahagia. Itu lah esensi kenikmatan kehidupan. Itu pula lah yang membuat manusia merasa puas akan eksistensinya. Dia mendapatkan pengakuan akan prestasinya dan sekaligus menggapai kepuasan batin. Namun sayangnya, hingga kini banyak orang yang terjerumus dalam kebahagiaan semu. Mereka tampak memiliki segala-galanya. Namun ternyata menjalani hidup seperti di penjara. Mereka telah memiliki apa pun yang tidak dimiliki oleh orang lain yang hina dina atau papa kelana. Namun ternyata, jauh di lubuk hati selalu merasa tersiksa.

Lalu dimanakah kebahagiaan ? Adakah dia ada ditumpukan emas permata ? Pangkat, jabatan dan segala predikatnya ? atau pada kecantikan seorang wanita ? atau pada lain-lainnya ?

Jika kita mau melihat apa yang tertera dalam perkataan-Nya di dalam kitab suci nan agung, sungguh Dia pasti akan memberikan kebahagiaan kepada siapapun yang termasuk dalam kriteria-Nya

"Dan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh maka kebahagiaan bagi mereka dan tempat kembali yang baik (surga) " (The Holly Qur'an Surah 13 Verse 29)

Perhatikan firman yang cukup singkat namun padat maknanya. Kebahagiaan merupakan hak prerogatif-Nya untuk diberikan kepada siapa pun bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh. Bahwa kebahagiaan adalah hal mutlak yang akan diberikan kepada siapa pun yang berusaha untuk senantiasa beriman kepada-Nya dan menjalankan amal shaleh sesuai dengan yang diperintahkan oleh Dia dan dicontohkan oleh Rasul-Nya.

Karena itu, wahai Saudaraku. Marilah kita tingkatkan kadar keimanan kita serta kualitas dan kuantitas amal shaleh. Kita jadikan kesibukan kita untuk berupaya menjadi hamba Allah yang senantiasa beriman dan beramal shaleh. Kita jadikan tiap jam, menit, dan detik sebagai upaya untuk menjadi hamba yang terbaik dalam memberikan pengabdian dan prestasi ibadah yang setinggi-tingginya. Maka kelak, Dia lah yang akan memberikan kebahagiaan kepada kita. Kalau sudah begitu, bukan lagi kita yang mengejar kebahagiaan, namun justru kebahagiaanlah yang akan mengejar kita.

Ditengah perjalanan pengembaraan ini, mari kita introspeksi. Sudahkah kita meningkatkan keimanan kita ? apabila ya, apakah kita telah beramal shaleh untuk hari ini ?

Minggu, 05 Juli 2009

Energi Penggerak

Setelah mendapat perintah, Musa Alaihissalam mengucapkan doa yang fenomenal :

Ya Tuhanku, lapangkan dadaku. Mudahkan urusanku. Bukakan kebekuan lidahku. Agar mereka paham apa yang kukatakan.

Saudaraku perhatikanlah. Yang pertama-tama di minta oleh beliau adalah kelapangan dada. Mengapa kita meminta kelapangan dada ? Karena perjalanan pengembaraan kita yang panjang ini sungguh bertebar cobaan dan ujian yang berat. Tidak selamanya kita menempuh perjalanan yang mulus dan bertabur bunga nan harum yang indah. Jika kita tidak diberikan kelapangan dada, maka pastilah ujian yang berat melanda akan mampu menghempaskan kita ditengah perjalanan yang panjang ini.

Kita sudah mengawali pengembaraan ini dengan niat hanya kepada-Nya. Maka otomatis ada peristiwa, kejadian, ataupun kesempatan yang akan menguji komitmen dan niat kita. Apakah kita akan tetap meneguhkan niat kepada-Nya ataukah niat yang telah ditanam akan mudah tercerabut dari hati kita. Karenanya, tanpa kelapangan dada akan sangat sulit bagi kita untuk melangkah pasti dalam pengembaraan ini. Juga tanpa kelapangan dada, tidak akan ada tekad untuk melangkah dengan tegar karena hanya muncul perasaan pesimis menghadapi cobaan kehidupan yang semakin lama semakin berat.

Lalu setelah kelapangan dada, kita meminta untuk dipermudah dalam segala urusan. Kemudahan ini penting karena langkah-langkah kita di dalam perjalanan pengembaraan ini pasti akan menemui hambatan dan rintangan serta jalan yang terjal, panas, berliku serta penuh dengan duri. Jika kita tidak mendapatkan kemudahan maka sudah pasti akan semakin sulit kita berjalan meskipun kita telah bertenaga untuk melangkah.

Setelah dada kita lapang dan urusan kita dipermudah, maka komunikasi dengan orang lain adalah yang kita butuhkan. Sungguh sangat gersang pengembaraan kita apabila kita tidak ikut menyertakan orang lain untuk sama-sama memperindah perjalanan pengembaraan kita. Karenanya butuh komunikasi yang baik antara kita dengan orang lain. Kebekuan lidah kita harus dicairkan sehingga orang lain akan mengerti apa yang kita inginkan. Arah apa yang akan kita tempuh dan tuju. Serta apa yang harus kita sama-sama siapkan sebagai bekal dalam perjalananan pengembaraan yang panjang. Dengan sama-sama melangkah pasti dalam pengembaraan ini, maka ketika kita sampai pada tujuan akhir, akan diperoleh balasan yang besar dari-Nya. Sungguh suatu keindahan tersendiri bagi kita apabila pada saat tujuan akhir nanti akan dirasai dengan kebersamaan.

Rabu, 24 Juni 2009

Apa yang Bisa Saya Berikan ?

Judul yang menjadi tulisan ini adalah pertanyaan mendasar yang terkadang banyak orang yang tidak tahu bagaimana menjawabnya. Saya menganggap ketidaktahuan itu wajar jika seandainya orang tersebut tidak mengetahui potensi apa yang dimilikinya.
Namun apakah kita akan terperangkap dalam ketidaktahuan tentang potensi kita ? Apakah selamanya kita akan menjawab tidak tahu ?

Sungguh merupakan kesia-siaan apabila kita masih terjebak dalam ketidaktahuan untuk sekian lama. Karena perjalanan pengembaraan ini sangat panjang, tentunya harus ada suatu bekal yang dibawa untuk dapat dibanggakan dihadapan-Nya. Jikalau kita tidak mengetahui potensi kita, maka bekal apakah yang akan kita banggakan dihadapan-Nya ? Mana mungkin kita dapat melakukan suatu karya nyata jika kita tidak tahu potensi apakah yang dapat kita gunakan untuk membuat karya nyata tersebut ?
Bukankah Dia telah berfirman dalam kitab suci teragung :

Sungguh Dia telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa diantara kalian yang paling baik karya nyatanya. Sungguh Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (The Holly Quran, Surah 67 verse 2)

Karenanya, Saudaraku... marilah kita menggali semua potensi kita. Kenali apa yang menjadi kelebihan kita. Fokuskan pada peningkatan kemampuan kelebihan potensi kita. Lalu gunakan potensi itu untuk membuat karya terbaik dalam hidup kita dengan tetap meluruskan niat hanya kepada-Nya.

Percayalah ! Jika kita mampu menggunakan potensi kita dengan baik. Dengan tetap meluruskan niat hanya kepada-Nya, maka Dia akan memberikan sebuah balasan yang besarnya tidak pernah disangka-sangka. Dia pulalah yang akan memberikan keutamaan dan kedudukan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Serta Dia pulalah yang akan meneguhkan kedudukan kita. Tidak ada yang Dia berikan kecuali hanyalah kemuliaan.

Tidakkah kita ingin mendapatkan kemuliaan dari-Nya ? Maka lakukanlah dari sekarang. Temukan potensi tersebut, sehingga pertanyaan yang menjadi judul dari tulisan ini akan dengan mudah anda jawab.