Selasa, 17 April 2012

Refleksi 2 tahun Hijrah

Berawal dari sebuah Nota Dinas yang diedarkan oleh Sekretaris Badan tempatku bekerja, pada Juli 2009, bahwa ada Lembaga pemerintahan baru yang mengumumkan rekrutmen untuk seleksi Pejabat Eselon di lembaga tersebut. Namun, ketentuan dalam Nota Dinas tersebut menyebutkan bahwa apabila ternyata lulus seleksi maka status kepegawaian akan segera dialihkan menjadi Pegawai Negeri Sipil di lembaga tersebut. Hatiku saat itu, entah mengapa, terpanggil. Maka kuberanikan diri untuk mendaftar disamping juga mendaftar secara on line ke Lembaga tersebut.

Setelah mengikuti tahapan seleksi yang sangat berat, aku pun dinyatakan lulus. Namun ternyata jalan untuk pindah terasa tidak mudah. Cibiran dan ejekan dari teman sejawat pun bermunculan. Mereka menyayangkan keputusanku untuk pindah. Mereka menertawaiku karena dengan keahlianku yang mumpuni di bidang Akuntansi dan Keuangan tentunya akan sangat berguna bagi tempatku bekerja ini. Apalagi, instansi tempatku bekerja akan ditingkatkan statusnya menjadi otoritas tertinggi yang akan mengawasi seluruh industri jasa keuangan di negeri ini melalui Undang Undang. Tentunya, akan ada remunerasi yang sangat tinggi apabila nantinya menjadi otoritas tertinggi tersebut. “Bisa berpuluh kali lipat dari sekarang”, demikian kata teman-teman sejawat. “Jangan sampai kamu menyesal kalau nanti gaji staf sepertimu bisa berlipat-lipat sementara penghasilanmu di lembaga sana malah sangat tidak memadai”, tambah mereka lagi.

Akupun mulai mencari tahu. Ternyata Gaji seorang pejabat eselon IV/a di lembaga pemerintah yang sedang melakukan rekrutmen tersebut ternyata lebih rendah dari gajiku sekarang. Ketika hal ini kuberitahu kepada wanita terkasihku dia cuma bisa menangis. Menangis membayangkan hidup yang pastinya akan semakin kekurangan. Betapa tidak! Dengan Gaji plus Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara yang besaran totalnya mencapai angka Rp 5,8 Juta kami sangat hidup dengan kondisi yang teramat pas-pasan. Apalagi kami harus menanggung cicilan hutang yang besarnya sekitar Rp 2,5 juta per bulan sehingga beban hidup kami semakin bertambah. Informasi yang ku dapat bahwa pejabat eselon IV/a di Lembaga pemerintah tersebut besaran Gaji plus Tunjangan Kerja Ganda hanyalah sebesar Rp 4,75 juta per bulan! Sehingga semakin terbayang, beban hidup yang semakin berat. Apatah lagi, wanitaku sudah tidak bekerja kantoran lagi lantaran terkena rasionalisasi!

Hatiku makin galau. Segalau tangisan kekasih hatiku yang semakin bersedih. Aku ingin membahagiakannya. Ingin melihatnya tersenyum dan tertawa. Andaikatapun dia menangis, aku ingin dia menangis bahagia. Aku terjebak di dua sisi. Satu sisi, inilah kesempatanku untuk meraih promosi dengan usaha tanganku sendiri. Bukan dengan cara menjilat, membungkuk-bungkuk, mencari beking atau dengan cara-cara pendekatan lainnya termasuk harus menjelek-jelekan rekan sejawat lainnya. Kali inilah aku mendapat kesempatan promosi bukan karena aku dekat dengan kekuasaan namun lebih karena prestasiku di tiap tahapan seleksi. Namun di sisi lain aku pun menyadari pula kalau ternyata tuntutan biaya hidup semakin menggunung. “Buat apa aku promosi kalau ternyata aku tidak mampu membiayai keluargaku”, pikirku dalam hati.

Ditengah kebimbangan, tanpa sengaja aku menyaksikan acara Mario Teguh Golden Ways. Dari acara itu aku pun mulai melihat dan menyimak apa yang disampaikan oleh motivator kondang tersebut. Tiba-tiba ada sebuah kalimat yang membuatku merenung. “Kenapa anda harus mempertahankan diri untuk berprestasi di tempat yang jelas-jelas tidak menghebatkan anda? Bukankah jauh lebih baik, anda menghebatkan diri di tempat yang seharusnya?”, demikian ucap sang motivator tersebut.

Kalimat itulah menjadikan ku termenung dan merenung. Sehabis shalat isya, kalimat itu masih terngiang-ngiang ditelinga. Aku merasakan bahwa tempatku bekerja memang tidak menghebatkanku. Padahal aku sudah pernah membuat manual pekerjaan yang bisa membantu teman-temanku untuk bekerja lebih baik. Bahkan aku dengan senang hati membagikan pengetahuan dan keterampilanku dengan yang lain. Aku pun juga berprestasi lantaran aku pernah membantu tim pemeriksa dalam mengungkapkan kasus-kasus besar. Namun kenyataannya aku tidak mendapatkan apa-apa!. Seorang pejabat eselon II ditempatku sering memberikan apresiasi yang tinggi atas hasil pekerjaanku, namun ternyata apresiasi itu hanya pemanis supaya aku terdiam! Kini, aku merasakan bahwa tempatku bekerja sama sekali tidak menghebatkanku.

Hari-hari berikutnya, aku masih bekerja ditengah kegalauan hati yang masih setia bersarang. Aku pun mulai berdoa supaya diberikan jalan keluar. Disebuah kajian siang di masjid Al-Amanah yang dibawakan KH A. Samiun Jazuli, tentang hijrah, membuka mata batin dan pikiranku. Berkaca kepada kehidupan Rasulullah SAW ketika berhijrah, justru beliau menemui kesulitan demi kesulitan bahkan ujian demi ujian. Namun ternyata, Allah memberikan balasan yang sangat manis! Tidak sampai sepuluh tahun kemudian, seluruh jazirah Arab telah masuk ke dalam Cahaya Islam. Bahkan beliau kembali ke Mekah sebagai pemenang!

Disitulah kegalauanku hilang. Seluruh kekhawatiranku karena tidak dapat membahagiakan keluarga hilang dan kebimbangan akan beban biaya hidup yang tinggi pun musnah! Dengan kemantapan hati, aku pun menghubungi para atasanku. Aku nyatakan bahwa aku akan pindah ke lembaga pemerintah tersebut sekarang! Dan aku pula yang mengurus berkas-berkas kepindahanku sendiri. Dengan bismillah aku mulai melangkah. “Ya Allah, kuniatkan kepindahanku ke instansi yang baru ini sebagai hijrah dijalan-Mu”, demikian kataku dalam hati.

Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari satu bulan, tepatnya 1 April 2010, akhirnya aku pun pindah. Ku melihat ekspresi dari para atasanku yang terkesan datar. Namun ku melihat kesedihan diantara teman-teman sejawatku. Mereka menyalami bahkan mencium tanganku berharap dapat bertemu kembali dilain waktu. Tapi langkahku sudah bulat! Aku pun mulai mengemasi seluruh barang dan pergi meninggalkan kantorku dengan langkah pasti di sore itu!.

Namun ujian belum berakhir. Sebulan sejak aku bergabung dengan lembaga baru ternyata aku harus mengembalikan Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara bulan kemarin karena kepindahanku tersebut tidak dikomunikasikan dengan Bagian Keuangan. Ketika kondisi ini kuceritakan kepada wanitaku dia makin bersedih! Karena aku belum mengembalikan tunjangan tersebut, maka transfer gajiku dihentikan karena aku dianggap berhutang kepada negara. Terpaksa aku pun mengutang lewat fasilitas kartu kredit terakhir dan membayar seluruh tagihan tunjangan tersebut. Kini beban hutangku makin menggunung karena tagihan kartu kreditku makin membengkak!

Aku bersedih. Ditengah kesedihan yang teramat sangat, aku menangis di dalam masjid. Memohon kepada Allah agar diberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan. Aku tidak tahu harus berbuat apa karena tidak tahu harus bagaimana. Entah mengapa selepas dari masjid pikiran dan hatiku terasa plong. Aku bertekad untuk menyelesaikan persoalanku dengan caraku sendiri.

Dengan terpaksa, aku menjual rumahku dengan harga murah! Rumah yang kubeli empat setengah tahun yang lalu kujual dengan harga yang sama ketika kubeli. Dari hasil penjualan rumah, aku pun memutuskan untuk mengontrak di sebuah rumah yang cukup baik di perumahan yang lebih dekat dengan stasiun kereta. Sebagian kupakai untuk melunasi seluruh tagihan kartu kredit sisanya ku tabung untuk modal usaha. Belakangan, tabunganku pun ludes lantaran tanpa ada sebab apa-apa Bapak Mertuaku harus masuk rumah sakit saat tiba di rumah kontrakanku saat mengunjungi aku dan keluarga. Namun demikian, sedikit demi sedikit aku sudah bisa mengurangi beban hutangku.

Satu setengah bulan sudah aku bergabung di lembaga pemerintah ini, maka aku mendapatkan penugasan ke Ujung Paling Barat Indonesia yakni Pulau Sabang. Dari sana, aku bisa pulang membawa pulang uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Berturut-turut aku mendapatkan penugasan ke tempat-tempat lain baik disebelah Barat, Tengah maupun Timur Indonesia. Hasil dari penugasan tersebut sebagian digunakan wanitaku untuk biaya hidup kami sekeluarga sisanya ditabung. Aku pun makin larut dalam penugasan-penugasan yang bagiku semakin menyenangkan. Dimana aku bisa berkunjung ke tempat-tempat eksotis di seluruh Nusantara ini tanpa harus mengeluarkan biaya sedikit pun!.

Akhir tahun 2010, seorang teman sedang mengerjakan kawasan perumahan di wilayah perbatasan antara Kota Depok dengan Jakarta. Tanpa disangka-sangka teman tadi menawarkan rumah di kawasan perumahan tersebut dengan harga hanya Rp 174 juta saja! Harga yang sangat murah untuk rumah yang hampir menempel dengan Jakarta. Karena wanita terkasihku sering menabung dengan tidak mengecek saldo tabungannya, maka kami terkejut! Hasil tabungan kami lebih dari cukup untuk membayar DP berikut biaya KPRnya!. Dengan segera, kami pun berhasil membeli rumah melalui KPR BRI Syariah dan seminggu setelah Tahun Baru 2011 kami pun menempati rumah baru kami bersamaan dengan berakhirnya masa kontrak di rumah kontrakan tersebut.

Selama tahun 2011, penugasan demi penugasan aku dapatkan. Koleksi perjalananku makin lengkap lantaran aku sering menempuh perjalanan darat, laut dan udara. Aku makin sering mengunjungi bandara yang tersebar di seluruh nusantara. Di akhir 2011, aku pun mendapatkan kado istimewa dari perusahaan penerbangan plat merah nomor satu di negeri ini. Menjadi Gold Member!. Dimana aku mendapatkan keistimewaan untuk menikmati makan, minum, sambil internetan di lounge mereka di seluruh bandara yang ada di nusantara ini secara cuma-cuma alias gratis!.

Mengawali tahun 2012, kini namaku sudah mulai terkenal. Kemana-mana aku dihargai oleh semua orang. Mulai dari Kepala Daerah, Sekretaris Daerah, Pejabat Eselon II, III, IV dan staf juga pejabat eselon lain di Kementerian lain bahkan tidak terkecuali Kementerian Keuangan!. Bahkan aku banyak berkenalan dengan para Perwira Menengah yang ada di Kepolisian. Aku pun berbangga hati, bisa mengajari tim dari Kejaksaan bagaimana membongkar kasus korupsi di bidang pengadaan dimana bayaran selama sehari setara dengan Gaji plus Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara, selama aku menjadi staf dulu di Badan, selama sebulan! Bahkan, rejeki dari Allah mengalir bagaikan air yang deras waktu aku bertugas di Kementerian Agama dan di sebuah kabupaten di Provinsi Bengkulu! Terasa benar nikmat Allah semakin terasa dalam hidupku.

Kini, tak terasa sudah 2 tahun aku berhijrah. Ketika melihat rumahku yang semakin bersinar, lengkap dengan peralatan rumah tangga yang memadai, halaman luas, tanaman yang sudah berbuah, terparkir kendaraan roda empat plus roda dua, serta ditambah kamar-kamar yang berpendingin udara, membuatku semakin bangga pada diri sendiri. Kemana-mana kini aku bekerja dengan menggunakan iPad dan Laptop terbaru, semakin mempermudah hidupku. Ketika melihat saldo rekeningku dan wanita kekasih hatiku yang angkanya setiap minggu selalu bertambah meskipun baru dalam kisaran jutaan rupiah dari bisnis perdagangan pakaian jadi yang dijalani oleh wanita terkasihku yang semakin lama semakin bertambah omsetnya, membuat kami sekeluarga makin bahagia. Apatah lagi, laporan dari Mandiri Sekuritas, setiap minggunya, yang selalu melaporkan kenaikan investasiku membuat kebahagiaan hidupku semakin bertambah.

Karenanya, aku berusaha untuk selalu memperpanjang sujudku kepada-Nya.
Hasil itu berbuah manis! Ternyata, Allah sama sekali tidak menyia-nyiakan hamba-Nya selama hamba-Nya itu senantiasa berusaha dan berdoa. Kini perlahan namun pasti, aku sudah membuktikan janji-Nya. Apabila kalian ingin merasakan hal yang sama, jadikanlah kisah yang kutulis ini sebagai pelajaran berharga.



Denpasar, 16 Maret 2012 menjelang tengah malam, disempurnakan di Bogor, 17 April 2012.

Samudra Gunadharma

Rabu, 08 Februari 2012

5 Wanita Tercantik di Dunia




Nomor 5 :

Julia Roberts

Ibu dua anak ini memnacrakan kecantikan alami yang tiada habisnya. Meski berumur kepala empat namun tetap terlihat cantik. Kecantikannya paling bersinar waktu di Film Notting Hill saat beradegan dengan Hugh Grant di Toko Buku menjelang ending film.







Nomor 4 :
Anne Hathaway
Wanita ini termasuk tercantik didunia karena memiliki pesona sendiri pada bentuk wajah dan senyum menawan. Kecantikan alaminya memancar di Film Princess Diary 2.







Nomor 3 :
Nadine Chandrawinata
Juara Putri Indonesia tahun 2005 memiliki kecantikan yang tidak dimiliki oleh wanita lain. Terutama selain tampilan wajah juga bentuk tubuh yang atletis. Meski dalam dunia akting terkesan biasa-biasa saja, namun ada pesona tersendiri yang dimiliki Wanita Indonesia ini. Kecantikan alaminya memancar sebagai bintang iklan Billboard Ice Cream Magnum.





Nomor 2:
Kate Middleton
Inilah wanita yang paling beruntung di dunia. Menjadi istri dari pangeran Inggris. Namun ketika saya melihat foto-fotonya wajar saja dia menjadi istri dari pangeran Inggris. Selain cantik, dia memiliki pesona sendiri yang terletak pada rambut panjangnya. Dalam beberapa foto, Kate Middleton terlihat sangat cantik ketika menggerai rambutnya yang panjang.




Nomor 1 :
Ny. Lilis Wahyuni Gunadharma
Ini wanita yang menurut saya paling cantik sedunia! Betapa tidak! Dibandingkan dengan wanita-wanita tercantik lainnya justru terlihat sangat cantik dengan balutan Jilbab dan busana muslim terusan panjang. Tambahan lagi, wanita ini hanya memperlihatkan kecantikannya hanya kepada suaminya bukan untuk dipamerkan ke orang lain. Itulah hal yang tidak dimiliki oleh wanita tercantik lainnya. Selain kecantikan fisik juga punya kecantikan batin yang dibalut dengan kesalehan.

Senin, 10 Oktober 2011

Beli Property tanpa Uang, Mungkinkah?

Pada awalnya, saya termasuk orang yang tidak mempercayai jika transaksi pembelian property bisa dilakukan tanpa uang. Semakin banyak mendapatkan informasi, sedikit demi sedikit ketidakpercayaan tersebut mulai berkurang. Namun, ketika saya membuka kembali pelajaran mengenai investasi termasuk investasi tentang property ketidakpercayaan itu muncul kembali, bahkan semakin bertambah.
Pada akhirnya, saya mempercayai jika transaksi pembelian property yang dilakukan bisa tanpa uang jika memenuhi kondisi tertentu, yang tentunya sangat jarang di temui di dunia nyata. Tentunya, saya juga mengombinasikan antara pengetahuan yang saya peroleh dengan pengalaman saya ketika membeli property khususnya via pinjaman bank alias KPR.

Orang-orang yang mengaku pakar property sering berseloroh, bahkan cenderung membual, bahwa transaksi property dapat dilakukan tanpa uang bahkan malah dapat uang. Skema yang selalu ditawarkan, melalui seminar-seminar yang diadakan dan selalu berbiaya mahal, selalu sama. Cari property yang harganya jauh dibawah harga pasar. Kemudian ajukan permohonan kredit (KPR) ke sebanyak bank. Dapatkan uang lebih dari hasil penilaian bank. Lunasi pembayaran property via KPR dan anda memiliki property yang anda inginkan. Semudah itukah?

Jawabannya Tentu Tidak!. Kenyataannya, inilah hal-hal yang pasti akan anda temui:

1.Ketika mengajukan aplikasi KPR kepada Bank, pihak Bank pasti akan menanyakan harga pembelian property yang anda ajukan selain dari kelengkapan surat-surat dari property yang anda beli. Dititik ini, mau tidak mau, anda harus berkata jujur apa adanya karena jika anda berbohong maka anda akan berurusan dengan hukum. Setidaknya, anda telah melanggar Undang Undang tentang Perbankan (Bisa kena sanksi pidana lho!). Meskipun harga property sudah jauh dibawah harga pasar dan anda sudah sepakat dengan pemilik property atas harga tersebut, tidak serta merta Bank akan membiayai transaksi anda sepenuhnya. Apalagi anda mengharapkan akan adanya uang lebih.

2.Seandainya pun anda berhasil “mengakali” pihak bank dengan menyebutkan harga yang jauh diatas harga yang sebenarnya, maka pada saat sebelum ditandatanganinya akad kredit, anda wajib menyetorkan biaya transaksi kepada Bank yang nilainya mencapai 5% dari total harga property yang anda inginkan. Penyetoran ini bersifat wajib karena pihak Bank ingin memastikan bahwa anda adalah pihak yang paling serius dalam mengambil KPR. Artinya, anda tetap harus mengeluarkan uang terlebih dahulu sebelum dapat memiliki property tersebut. Ingat! Semakin besar nilai transaksi semakin besar pula biaya transaksi yang akan dikenakan.

3.Pihak Bank tidak selalu menggunakan nilai pasar dalam pengajuan KPR. Pada beberapa Bank (kebanyakan Bank-bank besar-red) bahkan menggunakan nilai likuidasi dari property tersebut. Nilai likuidasi adalah nilai perkiraan Bank apabila property tersebut dijual cepat atau dijual dalam keadaan terpaksa (Forced Sale). Nilai likuidasi ini dipatok antara 25% hingga 60% dari Nilai hasil penilaian, tergantung dari lokasi yang akan dinilai. Plafon kredit maksimal tentunya bernilai 80% dari nilai likuidasi tersebut. Itu pun, pihak Bank nantinya akan melihat dan mencocokan Nilai Likuidasi dengan kemampuan membayar cicilan (repayment capacity) dari si pemohon sebagai bahan keputusan akhir dari pengajuan KPR.

4.Repayment Capacity, dihitung dari seberapa besar penghasilan anda. Tentunya, penghasilan yang tercermin pada rekening koran anda selama 3 bulan terakhir. Jika anda belum berpenghasilan atau berpenghasilan tidak tetap maka akan sulit bagi anda untuk memperoleh persetujuan KPR dari Bank.

5.Last but not least, ketika anda akan mengajukan aplikasi kredit kepada pihak Bank, maka Bank akan melakukan pengecekan sejarah kredit anda. Atau dengan bahasa kerennya, Bank akan melakukan BI Checking. BI Checking ini berfungsi, tidak hanya melihat apakah anda punya kredit macet akan tetapi juga melihat seberapa besar hutang-hutang anda yang masih ada (outstanding) yang tentunya akan mempengaruh repayment capacity anda selaku pemohon. Jika anda sebelumnya sudah pernah mengambil kredit dan masih berjalan alias belum jatuh tempo, entah KPR, Cicilan Kartu Kredit, Kredit Konsumtif, Kredit Tanpa Agunan atau apapun, maka perhitungan repayment capacity anda akan semakin kecil sehingga nantinya akan berpengaruh kepada persetujuan KPR dari pihak Bank. Aturan perbankan mempersyaratkan, jika repayment capacity anda kurang dari 60% dari penghasilan bersih anda dan pasangan atau dengan kata lain total pembayaran angsuran kredit anda lebih dari 40% penghasilan bersih anda dan pasangan anda, maka otomatis permohonan KPR anda pasti ditolak.

Jadi jawabannya, sudah pasti mustahil anda bisa membeli property tanpa uang jika mengandalkan KPR Bank. Karena sangat sulit bagi anda untuk tidak berbohong kepada Bank tentang harga beli property, tidak membayar biaya transaksi terlebih dahulu sebelum akad kredit dan anda sudah punya banyak KPR di Bank lain dimana cicilannya sudah melebihi 40% penghasilan bersih anda.

Lalu, adakah cara membeli property tanpa uang, dengan legal dan aman?

Tentu saja Ada! Disini, saya akan bagikan ilmu secara gratis kepada anda sehingga anda tidak perlu menghadiri kursus atau seminar property yang berbiaya sangat mahal.

Cara Pertama : Be a good quality credit person!

Anda sendiri harus menjadi pihak yang memiliki good quality credit person. Maksudnya adalah, anda memiliki ciri-ciri secara kumulatif sebagai berikut :

1.Anda dan pasangan hidup anda terbebas dari segala kredit macet dari manapun dan berapa pun besarnya, dan

2.Total penghasilan bersih anda dan pasangan hidup anda minimal 5 kali lipat dari angsuran property via KPR yang akan anda ajukan, dan

3.Seluruh penghasilan bersih anda dan pasangan hidup anda dibayarkan melalui transfer ke rekening Bank.

Atau,

Anda dan Pasangan anda memiliki Kartu Kredit Titanium (Diatas Platinum-red!) lebih dari satu kartu dan bersifat aktif (selalu digunakan dan lancar dalam pembayaran) minimal selama 6 bulan terakhir. Hal ini terlihat dari Billing Statement yang dikirimkan ke alamat anda dan pasangan anda setiap bulan.

Jadi, jika anda memiliki ketiga ciri-ciri diatas atau yang saya sebutkan terakhir tersebut, maka anda akan mampu membeli property tanpa uang. Bagaimana caranya?
Dikarenakan anda sebagai pihak yang memiliki good quality credit person, maka anda akan mudah mendapatkan pembiayaan Kredit Tanpa Agunan senilai property yang anda inginkan. Tentulah property yang anda beli haruslah property yang bersifat produktif bukan konsumtif! Karena ada cicilan kredit yang harus anda bayar setiap bulan. Property tersebut bisa berupa rumah kos, kontrakan, ataupun ruko dan gudang yang disewakan kepada pihak ketiga. Tentunya ada batasan nilai tergantung dari jumlah angsuran KPR yang bisa anda tanggung. Sebagai ilustrasi, jika anda dan pasangan anda memiliki penghasilan bersih senilai Rp 15 juta per bulan dan selalu ditransfer via Bank, maka anda akan bisa membeli property tanpa uang untuk property yang bernilai dibawah Rp 140 juta. Atau jika Kartu Kredit Titanium anda dan pasangan memiliki plafond hingga Rp 500 juta dan selalu aktif digunakan, maka anda dapat membeli property tanpa uang untuk property yang bernilai dibawah Rp 200 juta.

Cara Kedua: You’ve got Guarantor!

Anda dapat saja membeli property tanpa uang jika anda memiliki pihak yang bersedia menjadi penjamin bagi seluruh pinjaman anda. Penjamin inilah yang akan berhubungan dengan pihak Bank apabila anda akan melakukan transaksi pembelian property melalui KPR Bank. Siapakah yang dapat menjadi penjamin ? Siapa pun itu. Apakah perusahaan tempat anda bekerja, orang tua anda yang kaya raya, atau jaminan kredit dari lembaga pemerintah. Sepanjang ada pihak selain dari anda yang mau dan mampu menjadi penjamin dari kredit anda maka anda akan mampu membeli property tanpa uang. Kehadiran penjamin ini tentunya dapat anda gunakan untuk membeli property jenis apa pun baik yang bersifat produktif maupun konsumtif.

Cara Ketiga : Barter Transaction!

Anda bisa membeli property dengan cara barter. Sekarang ini banyak orang yang melepas property-nya apabila ada yang bersedia memberikannya mobil baru. Saya pernah menemui di daerah pedesaan ada orang yang bersedia melepas tanahnya asalkan diberikan beberapa sepeda motor. Jadi, jika anda memiliki barang-barang berharga baik bergerak maupun tidak dan ada pihak lain yang bersedia memberikan property-nya maka tidak ada salahnya melakukan barter. Barter transaction disini tidak harus menggunakan barang. Juga bisa ditukar dengan keahlian atau keterampilan yang memang anda miliki.

Nah, bagaimana? Untuk mengetahui rahasia membeli Property tanpa uang tidak harus menghadiri kursus yang mahal atau berbuat sesuatu yang ilegal dan tidak bermoral bukan?

Kamis, 26 Mei 2011

Kenangan dari Diklatpim Tingkat IV

Pada awalnya, saya membayangkan akan menemukan suasana yang menjemukan. Seperti cerita teman-teman yang mengikuti Diklatpim Tingkat IV, rata-rata mereka menemukan suasana yang cenderung formal dan kaku. Saya pun merasa dengan ditugaskan oleh pimpinan untuk mengikuti Diklatpim Tingkat IV ini seperti mengirimkan saya ke penjara.

Namun sedikit demi sedikit kesan tersebut mulai terkikis. Saya secara pribadi mulai mendapatkan teman-teman baru dari luar instansi saya. Saya mulai terkesan dengan gaya melucu dan konyol yang kerap terjadi diantara kita. Ada Akbar sang penidur, Yanuar yang senang bicara, Yusuf yang tenang, Alin yang sering bertanya panjang dan lebar namun kadang tidak fokus, Bunda Dewi yang periang, Cecep yang lucu, Bu Ayu yang serius, dan lain sebagainya. Karakter yang begitu aneka warna inilah yang memperkaya wawasan saya. Justru inilah ladang pembuktian untuk mengamalkan dan mempraktekan ilmu tentang manusia yang pernah saya dapatkan dulu di negeri orang.

Saya merasa bukan dalam suasana diklat. Meskipun isi materi maupun sistem pengajaran dari Diklatpim Tingkat IV ini biasa-biasa saja menurut saya, namun yang membuat tidak biasa adalah para peserta di dalamnya. Saya banyak mendapatkan pembelajaran-pembelajaran penting dari mereka. Bahwa hidup ternyata penuh warna dan lika-likunya tersendiri. Saya begitu bahagia karena sedikit lebih banyak telah menjadi bagian dari hidup mereka.

Kebersamaan dan kekompakan. Itulah yang saya pelajari dari semua peserta Diklatpim Tingkat IV ini. Sebuah nilai yang berhasil ditanamkan tanpa harus meniru disiplin ala militer. Tak perlu dipersatukan oleh hukuman-hukuman fisik yang konyol atau makan bersama dengan diawasi oleh penyelia. Namun semua mengalir begitu saja. Sebuah hal yang dapat terjadi apabila ada pertautan hati. Tanpa pertautan hati mustahil sebuah kebersamaan serta kekompakan akan terjalin diantara manusia yang sangat berbeda warna tersebut.

Pejabat yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan diklat pernah berseloroh bahkan bragging bahwa banyak peserta yang ingin Diklatpim-nya di perpanjang. Saya memang ingin sekali Diklatpim Tingkat IV ini diperpanjang. Bukan karena ingin mendengar ocehan widyaiswara. Bukan pula karena ingin menambah pengetahuan, karena apa yang diajarkan disini sama sekali bukanlah hal yang baru bagi saya. Tapi karena ingin menambah kebersamaan. Karena ingin merasai kekompakan yang telah kami bangun lebih lama lagi. Karena ingin terus berada ditengah warna-warni yang mampu mengajarkan saya arti sebuah persahabatan dan persaudaraan. Oleh karena itu, saya pastinya akan semakin merindukan untuk dapat bertemu meskipun masing-masing peserta nantinya akan kembali tenggelam pada aktivitas di tiap-tiap instansinya.

Wahai kawan-kawan peserta Diklatpim Tingkat IV Angkatan Pertama Lembaga Administrasi Negara tahun 2011, sungguh saya akan senantiasa merindukan kalian. Berharap kita semua bisa bertemu di Diklatpim Tingkat Satu. Namun andaikata harapanku tak terkabul, maka ketahuilah bahwa keberadaan kalian akan selalu di ada dihatiku. Akan kubuka ruang nurani dan sanubari untuk kalian, karena kalian telah mengajarkan hal yang terpenting dalam hidup ini. Kuberjanji, akan kuteruskan nilai-nilai kebersamaan dan kekompakan yang telah kudapat dari kalian kepada anak dan cucuku kelak. Meskipun hari ini kita terpisah di dunia, kelak kita akan bersatu kembali di alam keabadian di akhirat nanti.

Selasa, 29 Maret 2011

Sebuah Penantian

Tanpa disadari, kita berada dalam penantian yang panjang. Menanti akan hasil pekerjaan hari ini, menanti akan sebuah prestasi dari segenap usaha maksimal, bahkan menanti akan sebuah keputusan yang akan mempengaruhi jalan hidup kita. Kita semua dalam sebuah penantian. Tak jadi masalah, lama atau sebentar, baik atau buruk, sehat maupun sakit. Yang jadi masalah, apa yang sudah kita perbuat dalam penantian ini?

Sering dalam kehidupan ini, hasil yang didapat tidak sebanding dengan harapan yang telah ditanam. Dari situlah ujian sebenarnya datang. Apakah kita dalam penantian ini sudah bersikap tawakal kepadaNya? Ataukah kita dalam penantian ini hanya menyerahkan sepenuhnya kepada upaya dan usaha kita padahal tenaga dan pikiran kita sangat-sangat terbatas?

Pengalaman hidup ini telah mengajarkan padaku bahwa dibalik sebuah penantian, apabila disikapi dengan tawakal, akan selalu ada hikmah dan jalan keluar yang disediakan oleh-Nya. Bagi mereka yang telah dilandasi tawakal kepada-Nya, maka dia akan tetap teguh pendirian dan tidak putus harapan. Meski hasil akhir tidak sesuai dengan yang diharapkan, dia tetap memiliki keyakinan bahwa ada hikmah yang pasti akan ditunjukkan-Nya dari hasil yang telah diusahakan. Pengalaman saya membuktikan, bahwa orang-orang yang berjiwa seperti ini ternyata keluar sebagai pemenang yang sesungguhnya.

Rabu, 29 Desember 2010

Indonesia (Ternyata) Belum Belajar dari Irak!

Final Leg II Piala AFF 2010 yang digelar pada 29 Desember 2010 kemarin sama sekali tidak membuat saya tertarik lagi. Hasil akhir sudah bisa ditebak. Pada akhirnya, menurut ramalan saya, Malaysia-lah yang meraih trofi tersebut. Seandainya Indonesia memenangkan pertandingan pun tetap tidak merubah hasil akhir. Malaysia keluar sebagai juara. Ternyata, boleh percaya boleh tidak, ramalan saya berbuah menjadi kenyataan.

Saya masih ingat sekitar tiga tahun lalu ketika Piala Asia digelar di Indonesia. Meskipun sudah ditonton Presiden sekali pun ternyata Indonesia harus tetap tersingkir di babak penyisihan. Hasil akhir dari perhelatan sepakbola terbesar se Asia tersebut ternyata penuh dengan kejutan. Irak, negeri yang tengah dijajah Amerika Serikat dan selalu terjadi pertikaian berdarah setiap harinya, ternyata keluar sebagai pemenang. Menyingkirkan negara-negara Asia yang sudah menjadi langganan tetap peserta Piala Dunia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Tidak dibayangkan sebelumnya jika negeri yang sedang kacau balau dan hampir setiap hari terjadi pertumpahan darah ternyata mampu menorehkan prestasi sepak bola yang sungguh luar biasa.

Jika dilihat dari komposisi pemain, maka tidak ada satu pun pemain Irak yang berasal dari program naturalisasi. Tidak ada satu pun diantara pemain tersebut yang dijanjikan bonus milyaran rupiah jika menjadi juara. Juga mereka tidak pernah menghadiri acara istighotsah akbar yang digelar di pesantren besar. Tidak pernah pula mereka mengalami publisitas yang luar biasa dari media massa. Bahkan ketika berangkat ke Indonesia pun hanya pemberitaan ala kadarnya. Sepulangnya meraih trofi hanya penyambutan dari rakyat saja yang mereka peroleh plus seremonial sederhana. Selebihnya tidak ada. Yang makin membuat saya terkejut, tidak ada satu pun diantara mereka menjadi pemain bintang yang bersinar di Liga Eropa, Asia maupun Amerika.

Mengapa mereka mampu menjadi juara? Kuncinya ternyata sangat sederhana. Kerja sama tim yang baik. Tanpa ada kerja sama tim yang baik, maka permainan individu tidak akan ada gunanya. Tanpa ada kerja sama tim yang baik pula, maka tidak akan pernah tercipta permainan sepakbola yang indah berujung kemenangan yang manis. Tanpa ada kerja sama tim yang baik adanya, maka tidak akan pernah ada permainan sepakbola.

Masing-masing anggota Tim Irak tahu betul kapan harus bersama-sama menyerang. Kapan harus sama-sama bertahan dan tidak segan-segan membagi bola jika dilihat ada anggota yang berada di posisi terbaik untuk mengegolkan bola ke gawang lawan. Mereka betul-betul disiplin jika terjadi serangan balik lawan dan menutup rapat celah-celah yang bisa digunakan lawan untuk membobol gawang mereka. Tidak ada lagi mana bek, gelandang, maupun penyerang. Semua kompak dalam bertahan dan menyerang. Hasilnya? Trofi Piala Asia mampu mereka bawa pulang.

Terkadang kita lupa bahwa kesederhanaan pada hakekatnya adalah sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. Kerjasama tim yang baik adalah rumus sederhana dalam permainan sepakbola yang sering kita lupakan. Kita sering kali berakrobat untuk mendapatkan strategi jitu, cara yang canggih, dan lebih mengandalkan pada kemampuan cantik masing-masing individu dalam mengolah bola. Tapi sama sekali melupakan kerjasama tim. Hasil dari pertandingan demi pertandingan Piala AFF 2010 menunjukkan bahwa kerjasama tim ternyata menjadi barang langka di Timnas kita. Rupanya, kemenangan Irak dalam meraih Piala Asia di Indonesia pada tahun 2007 sama sekali tidak menjadi pelajaran apa lagi sekedar inspirasi buat kita semua. Tak heran, jika ternyata kita selalu terjatuh pada lubang yang sama!

Jika berpikir jangka panjang, akan ada pertandingan akbar yang menanti Timnas Indonesia mendatang untuk dimenangkan sebagai pengobat luka bangsa yang semakin perih ini. Yakni SEA Games 2011 di Palembang dan Kualifikasi Piala Dunia 2014 yang akan mulai digelar di pertengahan 2012. Apakah para pengurus PSSI dan juga pelatih serta semua pemain Timnas kita menyadari hal tersebut dan mau meningkatkan kualitas kerjasama timnya? Wallahua'lam. Saya tidak mampu dan tidak mau untuk menjawabnya.

Rabu, 08 Desember 2010

Kelucuan dalam Kesantunan

Apakah yang menjadi bayangan atau pikiran anda tentang hal-hal yang dapat diasosiasikan atau dikaitkan dengan kelucuan ? Pastinya anda akan menjawab kekonyolan, hal-hal unik, sesuatu yang dijadikan bahan tertawaan atau yang paling penting kebodohan yang berlebihan, keluguan dan bahkan olok-olok atas sesuatu kekurangan yang dimiliki seseorang. Tanpa kita sadari, justru hal-hal tersebut sering digunakan dalam keseharian kita untuk menimbulkan kelucuan dan memancing tawa. Tak sadar pula, banyak orang termasuk kita menggunakan hal-hal tersebut untuk melucu dan berhumor dengan cara sengaja menciptakan kekonyolan, olok-olok, maupun keluguan yang dibuat-buat.

Namun tidak kah kita pernah perhatikan, bahwa pada segelintir orang, justru mereka mampu menghadirkan kelucuan dan humor dengan penuh kesantunan, kebijakan dan tanpa menggurui ? Bahkan mereka secara tidak langsung mengajarkan kepada kita hikmah atau pesan moral yang berarti dengan cara membuat kita tersenyum dan tertawa. Seringkali pula, kita menyunggingkan senyum atau melepas tawa kita melihat atau menyaksikan mereka dalam diam atau pun berbicara, padahal yang dibicarakan adalah sesuatu apa adanya. Inilah kelebihan yang sangat jarang dimiliki orang banyak namun sangat dirindukan kehadirannya karena ada manfaat yang ingin di dapat dari tiap kelucuan yang dibuat.

Hal tersebut melekat pada komedian bernama Robbin Williams. Dalam setiap film-filmnya, kelucuan justru timbul dari dialog-dialog cerdas, adegan-adegan yang terkadang hening namun penuh warna, dan bahkan pada pemahaman terhadap plot cerita yang muncul ketika pikiran kita mampu menangkap pesan moral yang disampaikan. Jika dibandingkan dengan film-film lainnya-- yang lebih menjual adegan slapstik, dialog porno dan jorok, serta mengeksploitasi kekurangan atau cacat orang lain-- maka hal tersebut tidak muncul dalam film-filmnya. Itulah sebabnya, Saya sendiri selalu antusias untuk menonton film yang dibintanginya lantaran kelucuan yang begitu santun dan mengajarkan nilai moral yang baik mampu ditampilkan bersamaan dengan kemasan yang sangat baik dan menghibur.

Untuk contoh di Indonesia, hal tersebut ada pada diri Pak Dedy Mizwar. Apabila kita menelisik setiap film-film maupun sinetron-sinetron yang beliau bintangi, terasa betul bahwa kelucuan yang dihadirkan adalah kelucuan yang dibangun dengan kecerdasan dialog, plot cerita yang terkesan mengalir namun begitu kita memahami, kita pun dbuat tertawa karenanya. Tidak heran, ketika ada sinetron maupun film yang dibintangi oleh beliau, Saya dan istri pun tidak segan-segan untuk menontonnya.

Lalu bagaimana dengan para sineas kita ditanah air? Tanpa bermaksud untuk merendahkan dan menghinakan sepertinya dunia perfilman di tanah air kita makin jalan ditempat bahkan semakin memburuk. Hanya unggul dari sisi kuantitas namun sangat buruk dari segi kualitas. Plot cerita yang datar dan terkesan meniru-niru sinema luar negeri, akting para aktor dan aktris yang kaku dan terkesan konyol serta dibuat-buat semakin melengkapi keburukan atas kualitas film maupun sinetron yang dihasilkan. Karenanya, saya mendukung penuh pendapat banyak pakar yang menyatakan bahwa kebanyakan menonton film dan sinetron produksi dalam negeri hanya semakin merusak moral kita dan generasi muda dibawah kita.

Oleh karenanya, adalah upaya yang sangat panjang dan berliku untuk membuat suatu lawakan yang lucu, dalam bentuk film dan sinetron, namun dibalut dengan kecerdasan, kesantunan dan kesopanan tanpa ada maksud menggurui. Saya yakin, bahwa usaha ke arah tersebut sangat sulit, membutuhkan kesungguhan yang sangat ekstra serta upaya serius dan dukungan yang tidak henti-hentinya dari banyak pihak. Namun melihat contoh dari Robbin Williams dan Pak Dedy Mizwar, sesungguhnya kita boleh bersikap sedikit optimis bahwa hal tersebut ternyata bukanlah mustahil untuk bisa diwujudkan.